Senin, 26 Desember 2016

DASAR BAGI KEBAIKAN

       Kebaikan adalah harapan universal manusia. Setiap orang, jauh di dalam hatinya, ingin menjadi orang baik. Mereka ingin melakukan kebaikan, sedapat mungkin setiap saat dalam hidupnya. Dorongan untuk menjadi baik sudah selalu tertanam di dalam diri manusia.
Tradisi, Diri dan Hati Nurani
Sedari kecil, kita diajarkan juga untuk menjadi baik. Tentu saja, pemahaman tentang apa yang baik terkait dengan moralitas berbeda-beda. Agama dan budaya memainkan peranan besar dalam hal ini. Namun, ini semua tidak menjawab, mengapa orang menemukan dorongan untuk menjadi baik di dalam hatinya.
Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan, bahwa menjadi baik adalah bagian dari proses pelestarian diri manusia (self-preservation). Orang yang baik hati dan tindakannya cenderung lebih sukses dan bahagia dalam hidupnya. Mereka disukai keluarga dan teman-temannya. Ketika krisis melanda, mereka bisa mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak.
Di samping pertimbangan untung rugi semacam ini, ada orang yang berbuat baik, karena dorongan hatinya (conscience). Ia merasa, jika berbuat baik, ia mengikuti panggilan hidup terdalamnya. Hati nuraninya memanggilnya untuk terus berbuat baik saat demi saat di dalam hidupnya. Pertimbangannya tidak lagi untung rugi demi pelestarian dirinya, melainkan dorongan hati nurani sebagai keutamaan (virtue).
Immanuel Kant, filsuf Pencerahan asal Jerman, juga menegaskan, bahwa moralitas, yakni pemahaman tentang baik dan buruk, sudah selalu tertanam di dalam akal budi kita sebagai manusia (Vernunft). Menjadi baik itu rasional, karena sesuai dengan kodrat alamiah akal budi kita. Hukum moral sudah selalu tertanam di dalam sanubari manusia, dan mewujud secara konkret di dalam kewajiban (Pflicht) hidup sehari-hari yang dijalankan dengan setia.
Gagal
Lepas dari keempat hal ini, banyak orang tetap tidak mampu mencapai kebaikan, walaupun mereka menginginkannya. Harapan mereka tidak sejalan dengan tindakan nyata mereka. Niat baik tidak dibarengi dengan kerja nyata untuk mencapai kebaikan. Sebaliknya yang terjadi, yakni orang yang dikira baik ternyata menjadi koruptor, atau menjadi pelaku kejahatan biadab lainnya.
Mengapa ini terjadi? Mengapa niat baik kerap kali menjadi buah mimpi belaka, tanpa pijakan kenyataan? Saya berpendapat, bahwa ini terjadi, karena empat alasan di atas, yakni tradisi, pelestarian diri, akal budi dan hati nurani, tidak mencukupi untuk menjadi dasar bagi kebaikan. Keempatnya berpijak pada kesalahan berpikir dan ketidaktahuan.
Jika keempatnya tidak cukup, lalu apa dasar yang kokoh bagi kebaikan? Saya berpendapat, dasar paling kokoh dari kebaikan adalah kesadaran sepenuhnya akan jati diri sejati kita (awareness of our true self). Artinya, kita paham, siapa kita sebenarnya, sebelum segala identitas sosial ditempelkan pada kita.
Jati Diri Sejati
Kesadaran ini tidak dapat berhenti pada tingkat intelektual saja. Konsep, pengetahuan serta kepercayaan, sebagaimana ditawarkan oleh agama, filsafat dan ilmu pengetahuan modern, sama sekali tidak mencukupi. Kesadaran mendalam atas jati diri sejati kita adalah puncak kebijaksanaan, sebagaimana menjadi cita-cita dari berbagai orang besar sepanjang sejarah manusia.
Ini hanya dapat dicapai, jika orang bisa hidup disini dan saat ini. Masa lalu ditunda sebagai ingatan semata. Masa depan dilihat sebagai harapan belaka. Ketika tubuh dan pikiran bisa sepenuhnya disini dan saat ini, semua identitas akan tertunda, dan orang akan bisa menyadari jati diri sejatinya. Kesadaran akan keberadaan tubuh (body awareness) memainkan peranan amat penting disini.
Keadaan pikiran (state of mind) semacam ini lalu dipertahankan. Orang bekerja dan hidup dengan keadaan pikiran ini. Kebaikan lalu menemukan dasar yang kokoh. Ia tidak lagi dipengaruhi oleh tekanan tradisi, motif keuntungan diri ataupun kerapuhan hati nurani.
Bagaimana jika emosi kuat, seperti marah atau sedih, datang melanda? Caranya sederhana: kita kembali ke kesadaran akan tubuh kita. Segala emosi disadari, diberi nama dan dibawa ke dalam kesadaran akan tubuh yang kita punya. Dengan cara ini, perlahan namun pasti, emosi akan melebur dengan kesadaran yang merupakan jati diri sejati kita.
Kebaikan akan muncul secara alami. Saat demi saat, kita menemukan kedamaian dalam diri kita. Emosi dan pikiran boleh datang. Namun, kita selalu bisa membawanya ke dalam kesadaran tubuh kita. Disini, kebaikan menemukan dasarnya yang paling kokoh. Tak percaya? Silahkan dicoba.

Sumber :  www.rumahfilsafat.com


APA YANG SESUNGGUHNYA ADA?


Apa yang Sesungguhnya Ada



Sejak awal keberadaannya, manusia ingin memahami dunianya. Ia juga ingin memahami dirinya sendiri. Dorongan ini bersifat alamiah. Ia akan selalu ada, selama manusia masih hidup.
Memahami dunia berarti mengamati dunia apa adanya. Mengamati dunia apa adanya berarti mengamati dunia di dalam perubahannya. Segala sesuatu terus berubah, tanpa henti. Kita tak akan pernah menginjakkan kaki di sungai yang sama, begitu kata Herakleitos, filsuf Yunani Kuno.
Apa yang kita lihat sekarang bukanlah yang kita lihat sebelumnya. Setiap tujuh tahun, tubuh manusia berganti sepenuhnya. Ia menjadi manusia yang sama sekali baru. Yang sama dari manusia itu dengan manusia sebelumnya hanyalah namanya.
Apa yang kita anggap tetap dan akan memuaskan kita pada akhirnya akan berubah, dan lenyap dari muka bumi ini. Apa yang kita perolah akan berubah, dan akan lenyap. Apa yang kita pegang erat-erat juga akan berubah. Apa yang kita perjuangkan dengan seluruh hidup kita akan hilang ditelan angin.
Memahami kenyataan di dalam perubahannya berarti juga memahami alam di dalam keterhubungannya. Segala hal saling terhubung satu sama lain. Hukum-hukum fisika yang bekerja, ketika kita mengangkat tangan kita, sama dengan hukum-hukum fisika yang menggerakan meteor di ruang angkasa nan jauh disana. Perbedaan hanya merupakan ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita yang terbatas.
Kotoran bagi satu mahluk adalah makanan bagi mahluk lain. Apa yang dianggap menjijikan oleh manusia justru menjadi rumah bagi peradaban serangga atau tumbuhan tertentu. Lingkaran saling keterhubungan adalah bentuk dari alam semesta kita. Tidak ada yang suci dan tidak suci, karena semuanya saling membutuhkan satu sama lain.
Kenyataan juga tidak memiliki konsep. Kenyataan adalah apa adanya, just as it is. Ia tidak memiliki nama. Kata “kenyataan” juga sebenarnya salah kaprah. Ia membuat aliran perubahan seolah-oleh menjadi tetap, dan bisa disebut sebagai “kenyataan”.
Konsep membuat sesuatu tampak tetap. Padahal, sejatinya, segala hal terus berubah, tiap detik, tanpa henti. Konsep bukanlah kenyataan. Bahkan seringkali, ia menghalangi kita untuk memahami kenyataan.
Salah satu konsep yang paling banyak digunakan manusia adalah konsep “awal dan akhir”. Di dalam alam, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Segalanya berubah, bergerak. Apa yang kita sebut sebagai “awal” dan “akhir” juga merupakan sebuah perubahan yang tak istimewa.
Jika tak ada awal dan akhir, maka tidak ada hidup dan mati. Hidup dan mati hanyalah sebentuk perubahan. Pikiran kitalah yang mencapnya sebagai sesuatu yang penting. Alam semesta itu sejatinya tidak pernah hidup dan tidak pernah mati. Ia juga tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Ia hanya ada, dan terus ada.
“Awal-akhir”, “hidup-mati”, itu adalah konsep-konsep di dalam pikiran kita. Kita lalu melekat pada konsep-konsep itu. Kebahagiaan kita menjadi tergantung padanya. Jika sesuatu hidup atau dimulai, kita senang. Sebaliknya, jika sesuatu berakhir atau mati, kita lalu sedih. Ini adalah ilusi dari pikiran kita.
Ketika orang mati, tubuhnya menjadi bangkai di tanah. Rumput dan tanaman tumbuh subur di tanah yang berisi bangkai. Sapi lalu memakan rumput itu, lalu manusia memotong mati untuk lauk pauk di meja makannya. Inilah lingkaran kehidupan yang tak mengenal awal dan akhir, mati dan hidup.
Dalam arti ini, dapat juga dikatakan, bahwa seluruh alam ini adalah satu kesatuan. Tidak ada perbedaan. Semua terhubung, dan tidak hanya itu, semua adalah satu. Butiran pasir di pantai dan bintang raksasa yang berukuran ratusan kali lebih besar dari matahari adalah satu dan sama.
Argumen ini didukung oleh penemuan terbaru di dalam fisika. Komponen terkecil alam semesta adalah satu dan sama. Antara semut dan gajah tidak ada perbedaan, ketika kita melihat komponen terkecilnya. Perbedaan hanya tampak di mata dan pikiran kita.
Kesatuan ini ditunjang oleh harmoni di dalam alam semesta. Harmoni berarti segala sesuatu memiliki tatanan tertentu. Ada hukum-hukum alam yang mengatur segalanya. Tidak pernah ada chaos dan kekacauan, sebagaimana dibayangkan oleh manusia.
Sayangnya, banyak orang tak paham akan hal ini. Mereka menganggap, apa yang mereka punya akan tetap dan abadi. Mereka lalu melekat pada harta, ambisi dan nama besar. Mereka juga mengira, diri mereka abadi dan tetap. Tak heran, mereka hidup dalam penderitaan.
Mereka juga hidup dalam delusi. Mereka mengira, kematian adalah akhir. Lalu, mereka marah, takut serta sedih, ketika orang yang mereka sayangi meninggal. Mereka juga berusaha untuk bisa hidup sehat dan awet muda, serta berusaha untuk menghindari kematian. Usaha yang sejatinya sia-sia.
Banyak orang juga berambisi untuk memulai sesuatu. Lalu, mereka melekat pada ambisi dan pada sesuatu itu. Ambisi membutakan mata mereka. Padahal, itu pun juga sejatinya akan berakhir.
Orang yang hidup dalam delusi berarti hidup dalam penderitaan. Mereka melekat dan memegang erat hal-hal yang sejatinya terus berubah. Mereka mengira, bahwa pikiran dan konsep-konsep mereka adalah kenyataan. Mereka juga takut pada kematian dan usia tua.
Orang yang menderita akan cenderung membuat orang lain menderita. Penderitaan kolektif akan mendorong konflik antar kelompok. Perang antar negara juga bisa terjadi, karena penderitaan batin yang amat besar dari kedua belah pihak yang berperang. Perdamaian dunia tidak akan pernah tercapai, jika orang masih terjebak di dalam delusinya masing-masing.
Bagaimana kita membangun sikap hidup yang tepat dengan berpijak sebagaimana adanya? Bagaimana kita bisa melepaskan segala harapan kosong dan pikiran-pikiran delusional yang menutupi mata kita dari dunia apa adanya? Inilah pertanyaan yang menjadi pergulatan filsafat Yunani Kuno dan filsafat Timur. Bagaimana kita bisa melepaskan konsep-konsep pikiran kita, dan kemudian hidup mengalir mengikuti perubahan semesta?


Sumber : rumahfilsafat.com
Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya

MENGERTI ITU…..

MENGERTI ITU…..

Pengetahuan sehari-hari atau pengetahuan biasa itu kebanyakan agak dangkal. Memang dengan pengetahuan biasa orang – orang dapat melakukan kehidupan sehari-hari, tetapi dengan bertambah nya pengetahuan dengan makin luasnya lapangan pengalaman, dengan makin sulitnya kehidupan modern, makin bertambah pulalah pertanyaan-pertanyaan yang di hadapi orang, sedangkan keterangan-keterangan yang lama tidak memuaskan dan mencukupi lagi. Maka terasalah kekurangan pengetahuan biasa itu.

Pada umumnya dapatlah diberi definisi sebagai berikut

“mengerti ialah setiap kegiatan dengan mana subjek dengan cara tertentu mempersatukan diri dengan suatu objek “

Jadi setiap bentuk mengerti berarti menjadi satu , walaupun cara mempersatukan diri itu berlain-lain menurut derajat kesempurnaan subjek yang mengerti itu(Tuhan-Manusia-Binatang).



Dalam perbuatan mengerti , subjek dan objek menjadi satu, tidaklah secara fisis(seperti halnya apabila orang lain misalnya makan nasi) melainkan secara “tidak fisis” secara batiniah, secara “ideal” , artinya dengan perantaraan “idea” atau gambaran btin yang dibentuk oleh pikiran (pengertian) berdasarkan bahan – bahan dari panca-indera(tangkapan)

Adapun cara menangkap objek itu ada dua, yaitu :

1. Dengan panca – indera manusia

2. Dengan pikiran manusia

Jadi apakah yang kita lihat? Dengan pana indera manusia menerima bermacam—macam pengalaman dan kejadian itu baik di luar maupun di dalam dirinya sendiri. Tetapi ia tak puas dengan hanya menetapkan kejadian-kejadian itu, maka pikiran menyusun , mengatur, menghubungkan, mempersatukan bermacam-macam pengalaman itu dan mencoba mencari keterangannya. Dengan perkataan lain, kita tak hanya mengerti bahwa “ini adalah demikian”, melainkan juga ingin mengerti “mengapa ini memang demikian adanya”. Dan baru dengan demikianlah “mengerti” itu menjadi pengetahuan.

FILSAFAT SEBAGAI AJARAN HIDUP

FILSAFAT SEBAGAI AJARAN HIDUP



Apabila filsafat dijadikan suatu “ajaran hidup”, maka ini berarti bahwa orang mengharapkan dari filsafat itu dasar- dasar ilmiah yang dibutuhkan untuk hidup.

Filsafat diharapkan memberikan petunjuk – petunjuk tentang bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia sempurna, yang baik yang susila dan bahagia.

Jadi, tidak hanya ilmu pengetahuan yang teoritis saja, melainkan yang praktis juga, artinya mencoba menyusun aturan aturan yang harus di turuti agar hidup kita mendapat isi makna dan nilai . dan ini sesuai dengan arti “filsafat” sebagai usaha mencari kebijaksanaan, yag meliputi  baik pengetahuan dan pemahaman yang mendalam maupun sikap hidup yang “benar” yang sesuai dengan pengalaman itu.

Sebenarnya pada hakikatnya keinginan yang terdapat dalam hak kita itu tidak hanya dorongan untuk mengerti saja . itu hanya satu aspek saja, satu fungsi saja, meskipun satu fungsi yang sangat penting bagi keseluruhan manusia. Karena itu dorongan untuk mengerti dengan sedalam- dalamnya itu berarti : dorongan untuk mengerti bagaimanakah sebenarnya hakikat kenyataan itu, bagaimana kah hakikat manusia itu……

Untuk dapat hidup menurut kebenaran itu. Inilah yang menyebabkan filsafat berarti mencari pandangan hidup, mencari pegangan pedoman hidup.

Maka tidak hanya mengherankan bahwa filsafat dalam sejarahnya di pandang sebagai ajaran hidup juga.

Makin luas pandangan orang, makin sulit kehidupannya, makin berkembang kebudayaannya dan makin luas juga oersoalan-persoalan yang dihadapi orang itu. Akan tetapi juga makin banyak cara – cara penyelidikan baru yang ditemukan makin berkembanga daya cipta nya untuk memecahkan persoalan yang sulit dan makin terasa pula kebutuhan akan pertanggungjawaban secara ilmiah.

Jadi kenyataan membuktikan adanya keinginan dan hasrat pikiran kita untuk mengerti sebab-sebab daripada segala sesuatu itu.

FILSAFAT BERSIFAT EKSISTENSIAL

FILSAFAT BERSIFAT EKSISTENSIAL

Filsafat sebagai ilmu penegtahuan yang kita pelajari sekarang ini sering namak sukar   ya setelah kita membaca – baca dan mempelajari tentang filsafat memang benar filsafat  mengandung pandangan – pandangan yang muluk-muluk yang dalam dalam dan sukar dimengerti. Karena hal itu jangan kita berpikir bahwa filsafat tidaklah berarti tidak ada apa apa, malah sebaliknya , karena yang dipesoalkan di filsafat adalah adalah diri kita sendiri.

Filsafat justru erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari – hari, dengan adanya manusia sendiri. Justru hidup kita sendiri yang memberikan bahan- bahan untuk drenungkan. Filsafat memang berdasarkan dan berpangkalan pada manusai yang kongkrit, pada diri kita yang hidup di dalam dunia dengan segaka persoalan-persoalan yang kita hadapi.

Apabaila dalam filsafat terdapat teori – teori yang muluk-muluk dan sukar maka hal itu maksud dan tujuannya tidak lain hanya ingin menerangkan kenyataan yang konkrit dan real yang ita alami di  dunia ini.

Mengenal isi dari filsafat itu berbeda – beda menurut masa diperkembangannya . berganti-ganti yang dipersoalkan atau yang ditiik beratkan ialah :

a. Dunia yang mengelilingi kita

b. Sikap hidup atau kesusilaan

c. Hubungan antar amanusai dan Tuhan atau sikap religious

d. Struktur dan susunan pengetahuan dan sebagainya



Pada waktu sekarang ini makin banyak di titikberatkan pada sifat eksistensial bahwa kita dalam filsafat harus brpangkal pada situasi kita sendiri di dalam dunia ini. Justru sifat eksistensial inilah yang dijadikan dasar dari aliran filsafat “eksistensialisme” yang berkembang pada abad ke – 20 ini.

Jadi pada intinya filsafat adalah pernyataan atau penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang, maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau di persoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita semua .

FILSAFAT INDONESIA

FILSAFAT INDONESIA



Pemikiran hidup bangsa Indonesia tidak sama dengan pemikiran bangsa di Negara lainnya. Seperti bangsa-bangsa di Negara-negara Barat, dimana pandangan hidup dan pemikirannya bersumber pada  peikiran filsafat Yunani, walaupun pemikiran fislafat Yunani ini tellag dapat dibuktikan dengan keberhasilannya membangun peradaban manusia, tetapi pada akhirnya akan mengalami kepincangan hidup. Kepincangantersebut dapat kita lihat bahwa manusia produk dari pemikiran Yunani hanya melahirkan manusia  manusia yang individualistis, yang di dalam dirinya terdapat sifat saling curiga , saling bermusuhan. Juga dari pandangan bahwa di dalam pribadinya terdapat  ha – hal yang selalu di pertentangkan dengan rasio(akal).

Mengapa demikian? Karena dari sifat individualistis dan materialistis yang akarnya dari pemikiran Yunani tidak terdapat warna yang Transendental atau yang immanent , tetapi pemikiran Yunani hanya diwarnai oleh warna mitologi dan rasio.

Dengan demikian , pandangan hidup atau pemikiran yang diperuntukkan membangun peradaban manusia, akan melahirkan manusia-manusia egoistis, yaitu manusia yang mementingkan dirinya sendiri dan menganggap orang lain sebagai objek kepentingan diri sendiri.

Demikian juga halnya dengan [pandangan hidup yang mengacu pada materialsme, dimana di dalamnya mengandung bibit keserakahan , kemurkaan dan menganggap orang lain sebagai objek keuntungan material , yang pada akhirnya akan melahirkan manusia- manusia yang tidak bermoral atau jauh dari nilai-nilai moral.

Jadi sesuatu pandangan hidup atau pemikiran yang berasaskan individualism akan melahirkan manusia manusia yang berpola ”dangkal” dalam lingkup pergaulan social. Sementara itu, pandangan hidup yang berasaskan materialisme akan melahirkan manusia- manusia yang berpola pada penyimpangan nilai-nilai moral dalam lingkup social.

PEMIKIRAN FILSAFAT INDONESIA

Maksud pemikiran filsafat Indonesia adalah suatu pemikiran filsafat yang di peruntukkan dalam atau sebagai landasann hidup bangsa Indonesia.

Maksud hakikat pribadi dalam kedudukannya sebagai manusia Indonesia adalah sebagai mahluk individu, mahluk social , dan mahluk Tuhan. Untuk mencapai kesejahteraan , kebahagiaan, dan ketentaraman seseorang harus mengupayakan dengan tiga cara keselarasan atau keharmonisan , yaitu  :

1. Selaras atau harmonis dengan dirinya sendiri

2. Selaras atau harmonis dengan pergaulan sesama manusia dan dilingkungan kehidupannya

3. Selaras atau harmonis dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ketiga keselarasan atau keharmonisan tersebut merupakan harmoni yang mutlak adanya , dimana di dalamnya tidak terdapat lagi pertentangan satu sama lainnya.



Suatu pemikiran filsafat yang implementasinya sebagai suatu pandangan hidup bagi setiap orang Indonesia mempunyai peranan yang penting , yaitu apabila seseorang tidak mempunyai pandangan hidup niscaya hidupnya tidak mengarah.



Bagi bangsa dan rakyat Indonesia tidaklah demikian , karena manusia-manusia Indonesia mempunyai kedudukan sebagai makhluk Tuhan. Akrena hidup ini tidak hanya di peruntukkan di dunia akan tetapi juga untuk akhirat. Dimensi ke akhirat inilah yang mengharuskan manusia Indonesia untuk mendasarkan pada suatu system pandangan hidup yang selaras atau harmoni , tidak bertentangan, dan sejalan dengan hakikat manusia sebagai mahluk Tuhan.

Jadi pandangan hidup model Indonesia mempunyai dimensia yang berakar keselarasan atau keharmonisan dengan hakikat kedudukan kodrat manusia , yang imlementasinya berupa assas kekeluargaan dan aasas kehidupan yang di ridai Tuhan















Referensi

Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.

MANUSIA DISEBUT MIKRO-MAKRO

MANUSIA DISEBUT MIKRO-MAKRO

Banyak sekali sebutan untuk manusia selain sebagai mahluk hidup, manusia sebagai mahluk eksistensi , manusia sebagai dualisme  manusia makrokosmos , manusia mikrokomos dan masih banyak lagi.

Kenapa manusia disebut Mikro-Makro???

Inilah yang ajaib , sebenarnya kita  manusia tidak hanya mengerti akan dunia diluarnya yang disebut makro-kosmos tetapi tahu akan dirinya sendiri pula, tidak hanya dapat berpikir tentang dunia , melainkan juga tentang dirinya sendiri, ya diri kita sendiri.

Ia membedakan dirinya dari dunia dan orang-orang lain, mngalamai dirinya sebagai sesuatu kesatuan yang diebutnya “aku”. Ia sadar akan dirinya sendiri akan “aku” nya sendiri, sadar akan kesadarannya sendiri juga. Ia tahu akan apa yang dipikirkannya, dialaminya , diperbuatnya .

Ia tidak hanya mengerit , tetapi mengerti bahwa ia mengerti. Misalnya, pada mata, mata dapat melihat  tetapi mata tak dapat melihat bahwa ia meihat, telinga tak dapat mendengar bahwa ia mendengar , tetapi manusia dapat dan tahu akan mengertinya tu, ia dapat giat dan tahu akan kegiatannya sendiri.

Ia adalah satu dan mengalami dirinya sebagai kesatuan juga. Inilah sebebnya maka manusia sering disebut  “mikro-kosmos” atau “dunia kecil” , tidak hanya dalam arti bahwa seluruh kekayaan alam dengan tingkatan-tingkatan kesempurnaannya (benda-benda mati, tumbuhan, binatang-binatang, orang-orang) tersimpul dalam diri manusia dalam satu kesatuan , tetapi terutama karena berkat jiwanya mempunyai suatu dunia-batin yang tertutup . inti jiwa yang terdalam , dimana ia mengalami dirinya sendiri, sadar akan adanya sendiri, kebebasannya dan kerohaniannya sendiri.

Apabila dunia batin ini kita selidiki lebih lanjut, maka ternyata terkandung berbagai – bagai gejala , seperti misalnya : kita melihat, mendengar, ingat akan sesuatu peristiwa yang terjadi , menilai, bermenung – menung, merasa sakit, suah , memutuskan sesuatu, mempunyai cita- cita, mengalami berbagai perasaan seperti rindu, saying, cinta , benci…….

Gejala-gejala ini biasanya dibagi menjadi 3 golongan yaitu : mengerti-merasa-menghendaki, atau pikiran-rasa-kemauan, atau cipta – rasa- karsa yang disebut trias dinamika manusia.

Sema gejala-gejala ini, walaupun agak berbeda-beda satu sama lain namun merupakan satu kesatuan juga, karena dipersatukan dalam “aku” dalam semua gejala ini, dalam semua perbuatan –perbuatannya dan kegiatan manusia mengalami dirinya sendiri sebagai aku , sebagai sumber dan pendukung dari segala kegiatan nya itu.



Yang berpikir itubukan akal melainkan “aku” dengan mempergunakan akalku, yang merasa tertarik itu bukanlah rasam, melainkan “aku keseluruhannya”.

Maka kesadarannya dapat juga disebut “kesadaran – diri” .jadi kesadaran ilaah pengalaman batin dari dirinya , pengetahuan bati dengan mana manusia langsung insyaf akan dirinya sendiri, akan adanya sendiri, akan perbuatannya sendiri dan menebut dirinya “aku:. Kesadaran ini disebut “refleksi “ jika manusia dengan sadar berpikir tentang akunya sendiri, menyadari kesadaran nya sendiri .


.