MANUSIA DISEBUT MIKRO-MAKRO
Banyak sekali sebutan untuk manusia selain sebagai mahluk hidup, manusia sebagai mahluk eksistensi , manusia sebagai dualisme manusia makrokosmos , manusia mikrokomos dan masih banyak lagi.
Kenapa manusia disebut Mikro-Makro???
Inilah yang ajaib , sebenarnya kita manusia tidak hanya mengerti akan dunia diluarnya yang disebut makro-kosmos tetapi tahu akan dirinya sendiri pula, tidak hanya dapat berpikir tentang dunia , melainkan juga tentang dirinya sendiri, ya diri kita sendiri.
Ia membedakan dirinya dari dunia dan orang-orang lain, mngalamai dirinya sebagai sesuatu kesatuan yang diebutnya “aku”. Ia sadar akan dirinya sendiri akan “aku” nya sendiri, sadar akan kesadarannya sendiri juga. Ia tahu akan apa yang dipikirkannya, dialaminya , diperbuatnya .
Ia tidak hanya mengerit , tetapi mengerti bahwa ia mengerti. Misalnya, pada mata, mata dapat melihat tetapi mata tak dapat melihat bahwa ia meihat, telinga tak dapat mendengar bahwa ia mendengar , tetapi manusia dapat dan tahu akan mengertinya tu, ia dapat giat dan tahu akan kegiatannya sendiri.
Ia adalah satu dan mengalami dirinya sebagai kesatuan juga. Inilah sebebnya maka manusia sering disebut “mikro-kosmos” atau “dunia kecil” , tidak hanya dalam arti bahwa seluruh kekayaan alam dengan tingkatan-tingkatan kesempurnaannya (benda-benda mati, tumbuhan, binatang-binatang, orang-orang) tersimpul dalam diri manusia dalam satu kesatuan , tetapi terutama karena berkat jiwanya mempunyai suatu dunia-batin yang tertutup . inti jiwa yang terdalam , dimana ia mengalami dirinya sendiri, sadar akan adanya sendiri, kebebasannya dan kerohaniannya sendiri.
Apabila dunia batin ini kita selidiki lebih lanjut, maka ternyata terkandung berbagai – bagai gejala , seperti misalnya : kita melihat, mendengar, ingat akan sesuatu peristiwa yang terjadi , menilai, bermenung – menung, merasa sakit, suah , memutuskan sesuatu, mempunyai cita- cita, mengalami berbagai perasaan seperti rindu, saying, cinta , benci…….
Gejala-gejala ini biasanya dibagi menjadi 3 golongan yaitu : mengerti-merasa-menghendaki, atau pikiran-rasa-kemauan, atau cipta – rasa- karsa yang disebut trias dinamika manusia.
Sema gejala-gejala ini, walaupun agak berbeda-beda satu sama lain namun merupakan satu kesatuan juga, karena dipersatukan dalam “aku” dalam semua gejala ini, dalam semua perbuatan –perbuatannya dan kegiatan manusia mengalami dirinya sendiri sebagai aku , sebagai sumber dan pendukung dari segala kegiatan nya itu.
Yang berpikir itubukan akal melainkan “aku” dengan mempergunakan akalku, yang merasa tertarik itu bukanlah rasam, melainkan “aku keseluruhannya”.
Maka kesadarannya dapat juga disebut “kesadaran – diri” .jadi kesadaran ilaah pengalaman batin dari dirinya , pengetahuan bati dengan mana manusia langsung insyaf akan dirinya sendiri, akan adanya sendiri, akan perbuatannya sendiri dan menebut dirinya “aku:. Kesadaran ini disebut “refleksi “ jika manusia dengan sadar berpikir tentang akunya sendiri, menyadari kesadaran nya sendiri .
.
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Desember 2016
Minggu, 11 Desember 2016
PERBANDINGAN ILMU PENGETAHUAN, FILSAFAT DAN AGAMA
PERBANDINGAN ILMU
PENGETAHUAN, FILSAFAT DAN AGAMA
Kita telah mengadakan perenungan
tentang pengertian yang sedalam-dalamnya dari tiga buah sumber atau wadah
kebenaran yaitu ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.
Sebagai kesimpulan dapatlah kita
mmengadakan perbandingan di antara ketiganya dengan mencoba melihat unsure –
unsure yang menjadi titik persamaan dan titik perbedaannya.
Adapun titik persamaannya adalah
sebagai berikut :
1. Ketiganya
baik ilmu pengetahuan, filsafat maupun agama merupakan sumber atau wadah
kebenaran atau bentuk pengetahuan
2. Dalam
pencarian kebenaran itu ketiga bentuk pengetahuan itu masing-masing mempunyai
metode, system dan mengolah objeknya selengkapnya sampai habis-habisan
3. Ilmu
pengetahuan bertujuan mencari kebenaran tentang mikro kosmos (manusia) , macros
– kromos(alam) dan eksistensi Tuhan/Allah.
Agama bertujuan
untuk kebahagiaan umat manusia dunia akhirat dengan menunjukkan kebenarana
asasi dan mutlak itu, baik mengenai manusia , alam maupun Tuhan/Allah
Disamping itu
terdapat pula titik perbedaannya sebagai berikut :
1.
Sumber kebenaran pengetahuan dan flsafat adalah
sama, keduannya dari manusia itu sendiri dalam arti pikiran pengalamann dan
intuisinya. Oleh karena itu disebut juga bersifat horizontal dan immanent .
sumber kebenaran agama adalah dari Allah di langit, karena itu disebut juga
bersifat vertical dan transcendental.
2.
Approach (pendekatan) kebenaran ilmu pengetahuan
dengan jalan riset (research ) pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen)
sebagai tolak ukurnya
Pendekatan kebenaran filsafat dengan jalan perenungan
(spektualif) dari akal budi atau budi murni manusia secara radikal, ssitematis
dan universal tanpa pertolongan dan bantuan dari wahyu Allah.
Pendekatan kebenaran agama dengan jalan berpaling k
epada wahyu Allah yang dikodifikasikan dalam kitab suci taurat, Injil dan
Al-qur’an.
3.
Sifat kebenaran ilmu pengetahuan adalah positif
(sampai saat ini) dan nisbi(relatif). Ilmu pengetahuan dimulai dengan keraguan
atau bertanya(?), sesuadah meyakini kebenarannya lalu menyetujuinya(!) dan
sesudah menyetujuinya lantas bertanya lagi yang dimanefastikan dalam bentuk
riset, pengalaman, dan percobaan. Jadi kode rumus ilmu pengetahuan ialah “? !?”
. itulah sebabnya ilmu pengetahuan itu berkembang terus sebagai hasil dinamika
penelitian itu.
Sedangkan sifat kebenaran filsafat adalah spekulatif
yaitu suatu perenungan yang bersifat pendugaan yang mengakar (radikal)
menyeluruh (integral) dan menyemesta(universal). Juga bersifat nisbi
(relative). Dimulai pula dengan keraguan (?) ,setelah yakin lalu setuju (!) dan
sesudah itu ragu dan bertanya lagi (?) untuk mencari jawaban yang mengasas dan
mendalam.
Jadi kode rumus filsafat ialah “? ! ?”.
Sifat kebenaran agama adala mutlak (absolute) karena
bersumber dari Dzat Yang maha Benar, Maha Mutlak, Maha Sempurn, Maha Bijaksana
yaitu : Allah.
Dimulai dengan keimanan dan keyakinan (!), setalah iman dan yakin menyelidiki kebenaran yang
mutlak itu (?), setelah konsisten antara keimanan dan keyakinan dengan ahsil
penyelidikannya, maka terjadilah pendalaman keimanan dan keyakinan itu yang
disebut taqwa (!).
Jadi kode rumus agama ialah “! ? !” .
4.
Tujuan ilmu pengetahuan itu hanyalah bersifat
teoritis, demi ilmu pengetahuan dan umumnya pengalamannya untuk tujuan ekonomi
praktis atau kenikmatan jasmani manusia.
Tujuan Filsafat ialah kecintaan kepada pengetahuan yang
bijaksana dengan hasil kedamaian dan
kepuasan jiwa yang sedalam dalamnya.
Tujuan agama adalah kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan
, keselamatan, keselarasan, keridhaan (keselamatan dalam Islam istilahnya :
“salam” seperti uacapan Allah pada ahli sorga di akhirat)
Referensi
Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.
MANUSIA DAN DUNIANYA….
Manusia Dan Dunianya….
Filsafat manusia di rumusakn sebagai suatu refleksi atas
pengalaman manusiawi untuk memperoleh paham tentang kedudukannya yang khas di
tengah mahluk-mahluk lainnya. Dalam refleksi tersebut , eksistensi ditemukans
ebagai suatu pengalaman induk.
Dengan
keluar dari diri, manusia mejadi diri. Relasi kepada sesame mendahului relasi
kepada dunia. Melalui sesame aku menjadi “at home” di dunia.
Berada
sebagai manusia berarti memanusiakan dunia. Manusia menjadi manusia dengan
memanusiakan dunia. Proses humanisasi ini disebut “membudaya”.
Kebudayaan
merupakan jawaban khas manusia atas segala macam situasi yang dihadapinya.
Situasi itu beraneka ragam. Manusia sebagai mahluk biologis berbeda situasinya
dengan manusia sebagai mahluk social , dan lain lagi dengan manusia sebagai
mahluk religious. Situasi juga bisa menjadi lain karena perbedaan zaman dan
daerah. Zaman dulu brbeda dengan zaman sekarang. Kebudayaan Timur berbeda
dengan kebudayaan Barat. Dari sebab itu dapat dikatakan bahwa kebudayaan
bersifat dinamis dan beraneka ragam.
Mahluk yang membudaya
Dunia alam
menjadi dunia budaya berkat manusia. Proses peralihan ini disebut proses
humanisasi.
Tanah
gersang diolah menjadi subur, batu batuan alam disususn sehingga terbentuk bangunan rumah. Usaha manusia untuk
memahlukkan dan menyesuaikan alam dengan kebutuhan manusia kita sebut dengan
“membudaya” termasuk manusia itu sendiri. Dengan memanusiakan alam manusia
memanusiakan dirinya sendiri. Dunia dan manusia tidak dapat terpisahkan dan terjalin
suatu hubungan timbal balik. Proses
membudaya adalah suatu proses humanisasi . humanisasai ini dapat ditafsirkan
dalam arti yang sangat luas atau dalam arti yang lebih sempit.
Berada di dunia
Dengan
perkataan “di” atau “didalam” bukan mau menunjukkan tempat seperti air
“didalam”g elas atau anjing “diadalam”
kandangnya, melainkan suatu cara berada yang berhubungan dengan
eksistensi manusia . bagaikan seekor siput yang berada sekaligus dengan
sarangnyya. Tanpa kerangnya, siput tersebut akan mati . siput dan sarangnya
merupakan dua bagian , namun sekaligus suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
Dunia
menjadi objek yang kuahas. Manusia dan dunia adalah dua kenyataan yang tak
terpisahkan. Manusia adalah uatu kesatuan dengan dunia alam (imanensi), namun
sekaligus bertransendensi terhadapnay (transendensi)
Karena
kesatuan inilah dunia berfungsi dalam proyek manusia tentang dirinya. Manusia berusaha untuk membuat dunia menjadi rumahnya.
Dengan demikian dunia dengan segala potensionalitasnya ikut terwujud.
Manusia
memang pemberi arti , tetapi hal itu tidak dapat dengan sewenang-wenang. Segala
usaha membudaya harus sesuai dengan orientasi yangh adir dalam alam.
Kita tidak
dapat memerintah alam tapi menaatinya. Diri kenyataan berfungsi sebagai norma
yang mengikat. Sama halnya dengan usaha menuju suatu pengetahuan yang benar.
Kenyataan harus ditaati sebagai norma.
Referensi
Adelbert
Snijders, Antropologi filsafat, Manusia
Paradoks dan Seruan : PT Kanisius, 2004
Jumat, 09 Desember 2016
AKU MENJADI AKU KARENA
KAMU
Kelahiran
manusia di dunia ini bukan suatu proses biologis belaka. Manusia idak lahir
dari salah satu eksemplar dari jenis yang sama. Kelahiran manusia merupakan
suatu proses manusiawi. Manusia lahir demi menuju keunikannyasebagai person.
Pada suatu
ketika ia harus bertindak sendiri, memilih sendiri, ,memutusskan sendiri dan
bertanggung jawab sendiri atas segala tindakannnya. Kelahiran manusia harus
dilanjutkan dalam seluruh pendidikan. Keluarga berperan sangat penting dalam
sleuruh perkembangan kepribadian seseorang.
Manusia
lahir dan berkembang dalam satu lingkungan
manusiawi. Tanpa lingkungan manusiawi, manusia tiak akan menjadi
manusia.
Sebagai
contoh, di India pernah ditemukan dua anak yang sejak kecil diasuh olh seekor
serigala dalam sebuah gua. Ternayata kelakuan mereka menajdi sama seperti
serigala. Mereka meraung – raung ditengah malam dan tidak tidur di siang hari.
Hal yang khas manusiawi baru mulai berkembang setelah mereka ditemukan dan
dipindahkan ke lingkungan manusiawi.
Segala
kekayaan manusiawi yang tersembunyi dalam diri seorang bayi baru
diaktualisasikan dalam hubungannya dengan sesama. Lingkungan manusiawi ikut
menentukan segala potensinya yang indah supaya dapat terwujud. Lingkungan
manusiawi ikut menentukan segala potensinya yang indah supaya dapat terwujud. Lingkungan
merupakan ikllim penentu bagi segala benih. Kalau iklimnya dingin , bunga tidak
membuak diri. Iklim untuk manusia bukan iklim biologis. Manusia membutuhkan
lingkungan manusiawi, tetapi lebih khusus adalah iklim cinta kasih.
Bahasa
sangat erat hubungannya dengan berpikir. Hubungan keduanya sama seperti
hubungan jiwa dengan bada. Berpikir tidak terpisah dari suatu bahasa .
keanekaragaman bahasa ikut menentukan keanekaragaman gaya berpikir. Berpikir
tidak hanya menyangkut logika saja. Dalam bahasa tertentu terjelma suatu gaya
melihat dan gaya menilai. Dunia budaya ikut menentukan kemungkinan –
kemungkinan yang terbuka bagi kita. Kemungkinan dalam suatu budaya yang
primitive sangat berbeda dengan kemungkinan yang terbuka dalam kebudayaan yang
lebih maju.
Cerita
tentang Robinson Croesoe pernah digunakan untuk membuktikan bahwa manusia dapat
hidup sendirian. Robinson Croesoe mendarat dengan kapalnya di sebuah pulau yang
tidaka da penguninnya. Di situ ia hidup selama 28 tahun. Maka kata orang,
terbuktilah bahwa manusia tidak
membutuhkan sesame untuk memenuhi kebutuhannya. Pendapat ini mengabaikan bahwa
Robinson Crosoe telah dididik dalam suatu dunia budaya tertentu dan peralatan
yang ia bawa adalah buatan orang lain.
Jadi dapat
di simpulkan bahwa manusia hanya dapat belajar bekerja dalam suatu lingkungan
yang bersifat manusiawi. Manusia baru
mulai mengenal diri sebagai aku berkat hubungannya dengan sesame. Manusia mengenal diri sebagai orang
yang malas, rajin , simpatik , tampan dan lembut melalui kontak dengan sesama.
Sifat-sifat seperti kikir, boros, sabar jujur dana dil mau mengatakan sesuatu
tentang hubungan manusia dengan esamanya. Kesosialan merupakan eksistensi. Aku
menjadi aku berkat sesamaku
Referensi
Adelbert
Snijders, Antropologi filsafat, Manusia
Paradoks dan Seruan : PT Kanisius, 2004
AKU DI DUNIA
AKU DI DUNIA....
Refleksi
atas aku mengatakan bahwa aku selalu aku yang melalui badanku hadir di dunia.
Aku yang terlepas dari dunia tidak kutemukan. Tidak ada aku “an sich” . Tak
mungkin memikirkan suatu “cara-berada-manusia” yang sekaligus stau “cara-berada
– di dunia”.
Dalam segala
hal yang dikatakan tentang aku, dunia telah hadi …
Misalnya ,
aku sadar akan diriku sebagai mahasiswa,
sebagai dosen, sebagai saudagar,sebagai pencuri. Segala cara berada ini adalah
suatu cara berada didunia. Hal tu sama saja dikatakan : aku berduka cita,
bersukacita, merasa bosan. Dalam tiap kajain ini dunia dengan wajah tertentu
terarah kepadaku.
Aku menjadi
aku berkat stau pertemuan dengan sesame di dunia. Dalam segala kegiatan, dunia
ikut terlibat. Manusia sibuk karena sibuk dengan dunia. Manusia seolah olah
diluar dirinya sendiri , sekaligus juga hadir pada dirinya. Inilah yang
dimaksud kalau dikatakan tidak ada aku yang terlepas dari dunia.
Tidak ada
dunia tanpa manusia…..
Semua yang
dikatakan dunia mengandaikan kehadiran manusia. Suatu dunia dimana manusia
tidak hadir , tidak mungkin ada. Dunia selalu suatu dunia manusiawi. Dunia
selalu menunjuk kepada manusia.
Kebun yang
tampak terpelihara tidak dapat dimengerti tanpa membayangkan adanya orang yang
merawatnya..
Tempat
sampah, kota, mobil, desa, semuanya ini menunjuk kepada manusia.
Gunung yang
tinggi, danau yang indah, batu yang licin, rumput yang hijau, bunga yang harum,
dan burung-burung yang berkicau, mengandaikan manusia yang berbadan, manusia
yang melihat dan mendengarnya. Tanpa manusia tidak ada dunia yang indah, hijau
ataupun harum.
Mungkin
orang berkata bahawa ilmu kimia memstikan bahwa air mempunyai susunan
molekul yang terdiri dari H2O. kebenaran
itu tetap berlaku entah manusia ada atau tidak. Walaupun demikian, ilmu kimia
tidak lepas dari manusia yang bertanya dan manusia yang mencari jawaban atas
pertanyaannya dengan metode metode tertentu. Kehadiran manusia tak terhapuskan.
Dunia memperlihatkan wajahnya sesuai dengan pertanyaan yang diajukan dan metode
pendekatan yang diterapkan.
Mungkin
orang berkata, “terbukti bahwa dunia sudah ada sebelum adanya manusia”, dan itu
memang benar. Tetapi manusia lah yang mengiyakan danya suatu dunia sebelum
manusia. Manusialah yang berkata “ dunia itu ada sebelum manusia”.
Dengan refleksi atas menusia sebagai
eksistensi , maka semakin disadari eratnya relasi antara dunia dan manusia .
segalanya menjadi “relative” karena relasi kepada orang tak mungkin terhapus.
Dapatkah dunia yang relative itu sekaligus objektif?apakah relativitas itu
harus disamakan dengan relativisme??
Ekistensi sebagai pengalaman asasi
Manusia
bukanlah objek belaka, malainkan juga subjek. Filsafat harus kembali kepada
pengalaman asasi. Pengalaaman itu menyatakan bahwa manusia adalah eksistensi.
Apa yang
di makssud dengan istilah eksistensi????
kata ” eksistensi” dalam filsafat eksistensilisme adalah suatu istilah filosofis yang mengandung arti khusus. Kata “eksistensi” dikhususkan untuk cara berada manusia yang khas. Hanya manusia lah yang bereksistensi
kata ” eksistensi” dalam filsafat eksistensilisme adalah suatu istilah filosofis yang mengandung arti khusus. Kata “eksistensi” dikhususkan untuk cara berada manusia yang khas. Hanya manusia lah yang bereksistensi
Dengan
mengatakan bahwa manusia bereksistensi berarti manusia baru menemukan diri
sebagai aku dengan keluarnya dari dirinya. Tidaka da aku yang terpisah dari
dunia. Refleksi filosofis yang terkritik tolakk dari aku yang terpisah dari
duniamenajdi idealism, dan refleksi filosofis yang bertolak dari suatu dunia
yang terpisah dari aku menjadi materialsme. Hal ini bertentangan dengan
pengalaman asasi manusia
Referensi
Adelbert
Snijders, Antropologi filsafat: Manusia
Paradoks dan Seruan : PT Kanisius, 2004
Langganan:
Postingan (Atom)