Senin, 26 Desember 2016

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA



Filsafat Agama

Filsafat agama pada umumnya , ini adalah hasil pemikiran dasar-dasar agama yang besifat analitis rasional dan kritis, tetapi bebas (terlepas) dari ajaran – ajaran agama. Dalam pembahasannya tentang ajaran – ajaran agama disatu pihak membenarkan dan di lain pihak bisa bersifat mengingkarinya atau menentangnya.

Filsafat suatu agama atau theology (ilmu agama) membahas dasar-dasar yang terdalam tentang suatu agama tertentu, misalnya theology Islam, theology Nasrani dan theology yahudi. Pembahasannya masing-masing tidak lagi mempermasalahkan kebenaran agama yang dibahasnya itu, karena telah di terima sepenuhnya sebagai kebenaran, sifat pembahasannya juga bersifat analitis, rational dan kritis dengan tujuan memberikan alasan rational dan pembenaran agama itu.

Jadi tugas filsafat disini ialah berusaha mengantar ajaran-ajaran agama itu kedalam budi manusia sehingga dapatlah diterima dan dipahami sepenuhnya secara rational.

Filsafat dengan Causa Prima

Dalam pada itu filsafat sendiri dalam usahanya menunjukkan apa yang terdalam dengan barang-barang, dalam manusia dan dunia maka sampailah pada pengertian tentang sebab pertama (causa pria) pada yang Mutlak dan menerangkan bahwa sebab pertama dan tujuan akhir ini bukanlah hanya “sesuatu” melainkan suatu “Zat Yang Maha Sempurna”  . dan ini sesuai dengan keyakinan yang hidup dalam hati setip orang , bahwa ada sesuatu  yang mengatasi manusai dan dunia, sesuatu yang lebih luhur, lebih tinggi dan lebih mendalam.

Jadi filsafat sendiri menunjukkan kepada “Yang mengatasi segala-galanya” dan bersama –sama dengan itu mengakui batas-batasnya sendiri. Bahwa kita berhadapan dengan rahasia tentang manusia dan dunia. Akan tetapi jika filsafat berdasarkan logika yang sehat dan tajam, mengatakan bahwa “setiap orang wajib mengabdi kepada Tuhan , harus idup sebagai hamba Allah (ini berlaku umum, bagi setiap orang demikian pula bagi mereka yang tidak beragama) maka timbullah pertanyaan : bagaimanakah tuntutan kodrat kita ini harus di laksanakan dalam kodratnya?

Filsafat dan eksistensi wahyu Allah

Dilihat dari sudut filsafat harus diakui mungkinnya wahyu Allah itu. Mungkin justru wahyu Allah inilah menunjukkann bagaima kehendak Tuhan yang nyata, bagaimana caranya melaksanakan tuntutan kodrat kita.

Memang dan ini tetap kita pertahankan bahwa filsafat memberikan petunjuk – petunjuk dan ukuran-ukuran yang benar dan yang harus dilaksanakan (tentang hidup kesusilaan, kebenaran, kebaikan , kehidupan bersama dan sebagainya).

Jadi titik terakhir yang dapat dicapai oleh filsafat ialah demikian : saya berhadapan dengan kegaiban dan keajaiban realitas. Baik realitasku sendiri maupun realitas / kenyataan diluarku . menginat bahwa realitas yang tertinggi ialah Maha realitas, Sumber ada, Tuhan….

Maka tidak lah mungkin bahwa ada kemungkinan lain, kemungkinan yang lebih luas dan lebih dalam lagi untuk memenuhi kehausan jiwa dan hatiku?

Semua dorongan yang da pada manusia itu tak lain ialah dorongan untuk bahagia….



Referensi

Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.

SIKAP ILMIAH

SIKAP ILMIAH



      Seseorang yang berpendidikan seperti misalnya mahasiswa seringkali dituntut untuk berfikir secara ilmiah, atau bersikap ilmiah yang dimaksud sikap ilmiah ialah merupakan suatu pandangan seseorang terhadap cara berpikir yang sesuai dngan metode keilmuan , sehingga timbullah kecenderungan untuk menerima ataupun menolak terhadap cara berpikir yang sesuai dengan keilmuan tersebut. Seorang ilmuwan jelas harus memiliki sikap yang positif., atau kecenderungan untuk menerima cara berpikir yang sesuai dengan metode keilmuan, yang memanifestasikan dii dalam kognisinya, emosi atau perasaannya serta di dalam perilakunya.

Ada beberapa sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh seorang ilmuwan, seperti yag dikemukkan oleh Prof. Drs. Harjoso yaitu sebagai berikut :

1. Objektivitas

2. Sikap serba relative

3. Sikap skeptif

4. Kesabaran intelektual

5. Kecerdasan

6. Sikap tidak memihhak pada etik



1. Objektivitas

Objektivitas artinya ia berpikir harus sesuai dengan objeknya , deengan peristiwa , atau benda-benda yang memang ia pelajari , yang ia selidiki . idak keuar dari apa yang ada pada objek yang la plajari .

Seorang ilmuwan berpikir objektif , akan enjauhkan penilaian yang subjektif yang dipengaruhi nilai-nilai kedirian, keinginan, harapan-harapan , serta dorongan – dorongan pribadinya.

Begitu juga kesimpulan ahsil penelitian akan bersifat objektif, apabila hasil-hasil penelitian tersebut tidak dipengaruhi oleh pandangan hidup, ras , agama kebudayaa , faktor-faktor politik.

Sikap objektivitas daam ilmu-ilmu social akan lenih sulit dibandingkan dengan ilmu-ilmu kealaman. Ilmu – ilmu social yang menjadi lapangan penelitiannya adalah manusai, yang menyangku objek-objek , peristiwa-peristiwa, serta masalah-masalah social lainnya yang banyak menyangkut masalah pribadi , masalah status, masalah kelangsungan hidup, keselamatan hidup pribadi dan sebagainya.

Karena itu penguasaan emosi merupakan fatktor utama dalam penelitian ilmu-ilmu social.











2. Sikap relative

Lawan dari relative adalah mutlak dan abadi. Sikap relative merupakan suatu keharusan dalam ilmu, karena ilmu hanya berhubungan dengan dunia fenomena yang penuh dengan perubahan, selalu mengalami perkembangan. Ilmu tidak encoba mencari sesuatu yang mutlak yang mutlak bukan lapanga ilmu, tu dipelajari pada filsafat yang pada akhirnya akan bermuara kepada agama.

Dalam ilmu tidak mengenal kemutlakan , dalam arti apa yang dihasilkan ilmu sekarang , dapat digugurkan oleh hasil penemuan –penemun barunya. Apalagi dalam ilmu – ilmu social sangat rawan kalau kita sampai kepada pengertian mmutlak. Suatu hasil penelitian dapat diterapkan di Jawa Barat, namun belum tentu dapat diterapkan di Sulawesi , apalagi di luar Indonesia.



3. Sikap Skeptif

Sikap Skeptif , artinya memilki pandangan yang ragu-ragu terhadap suatu ide. Menurut Rene Decartes keraguan itu tidak hanya kepada masalah – masalah yang belumm cukup kuat dasar pembuktiannya, bahkan kepada idea atau yang telah kita miliki pun harus ragu-ragu. Maka karean itu seorang ilmuwan berhubungan dengan sikap skeptif ini, dia harus hati- hati dan teliti dalam mengambil keputusan akhir , dalam memberikan pernyataan dan penilaian ilmiah.

Dengan keraguan ini biasanya seorang ilmuwan akan lebih bersikap kritis terhadap sesuatu atau peristiwa , tidak akan mudah untuk mengikatkan dengan suatu paham atau politik tertentu.



4. Kesabaran intlektual

Suatu penelitian ilmiah merupakan kesabaran untuk mengumumkan hasilnya, tidak tergesa-gesa. Bekerja dalam ilmu haus sistematis , teliti dan tekun. Hal ini jangan ada suatu kesimpulan yang kontroversi sebagai contoh misalnya , para ahli lemari es dengan hasil eksperimennya yang begitu lama dan teliti , mengahasilkan tabung yang berisi “Freon” yang menurut sifatnya refrigerant Freon yang beredar di pasaran (dalam lemari es) tidak beracun, tidka korosif , tidak iritasi, dan tidak terbakar dalam semua keadaan  penggunaan (laporan laboratorium teknik kondiis lingkungan fisika hidup ITB). Namun kita dikejutkan dengan suatu laporan ilmiah juga bahwa suatu ledakan yang menghancurkan lima bangunan rumah dan menewaskan enam manusia berasal dari tabung Freon leari es yang terbakar.

Apakah ini suatu penelitian yang tidak saksama, atau keputusan yang dipengaruhi emosi-emosi perlu kita kaji kembali.

Nah oeristiwa diatas harus kita kembalikan bahwa tidak ada yang mutlak dalam ilmu, jadi relative , maka ilmuwan harus terbuka untuk mengadakan penelitian kembali apakah betul Freon bisa meledak atau tidak . dan disinilah dibutuhkan suatu kesabaran intelektual.



5. Kesederhanaan

Kesederhanaan merupakan sikap ilmiah , artinya sederhana dalam cara berpikir, dalam cara menyatakan , dalam cara epembuktian. Bahaa yang dipergunakan harus jernih, jelas dan terang, tidak mengambarkan emosionall peneliti yang pada akhirnya dapat mengaburkan hasil penelitiannya sendiri.

6. Tidak memihak pada etik

Etika berbeda dengan psikologi , antropologi dan sosiologi. Bahwa ilmu mengadakan penilaian tentang baik dan buruknya sesuatu yang diteliti. Ilmu hanya mengajukan dekskripsi benar atau salah secara relative. Namun pada akhirnya kalau sampai kepada penggunaan hasil ilmu tadi tetap akan berhubungan dengan etika tertentu. Misalnya seorang ahli fisika nuklir , sewaktu membuat bom nuklir tidak dipengaruhi oleh nilai etika tertentu , semata-mata dibina oleh kaidah-kaidah dalam ilmu fisika. Dia tidak akan berhasil membuat bom atom seandainya dia memperhitungkan nilai-nilai politik, nilai religi, perhitungan psikologis, sosiologis dan sebagainay. Namun pada akhirnya kalau ditanyakan bagaimana penggunaan bom atom itu, ia diharuskan mengambil sikap yang mengandung penilaian etik atau religi.

BERPIKIR ITU BERMIMPI

BERPIKIR ITU BERMIMPI...

Berpikir dan Bermimpi
Jika diperhatikan, pengalaman bermimpi ini sama seperti pengalaman berpikir. Kita membangun gambaran, konsep dan cerita di kepala kita, lalu mengiranya sebagai nyata. Namun, setelah diteliti lebih dalam, gambaran itu ternyata salah. Mirip seperti mimpi, ia pun segera berlalu, dan hanya menyisakan setitik ingatan.
Ketika berpikir, kita membangun konsep. Proses ini seringkali terjadi begitu cepat, tanpa disadari. Kita mulai menilai dan memisahkan. Peristiwa, yang sejatinya adalah peristiwa netral, kini mendapat label baik atau buruk, benar atau salah, nyaman atau tidak nyaman dan sebagainya.
Konsep ini lalu berubah, ketika mendapatkan pengalaman atau pengetahuan baru. Kadang, ia lenyap sama sekali. Dalam konteks lain, ia membesar, karena terus terbuktikan oleh pengalaman. Dalam kesempatan lain, konsep yang baru pun lahir.
Kenyataan dan Penderitaan
Konsep ini begitu nyata dan kuat. Sama seperti mimpi yang terasa begitu nyata, kita lalu mengira konsep sebagai kenyataan. Kita menganggapnya sebagai kebenaran. Ketika kita mengira konsep adalah kenyataan, dititik itu pula, kita memasuki pintu penderitaan.
Sejatinya, sama seperti mimpi, konsep bukanlah kenyataan. Ia adalah sebentuk abstraksi yang dihasilkan oleh pikiran manusia. Ketika sebuah peristiwa kita bungkus dalam konsep, ketika itu pula, ia bukan lagi kenyataan. Konsep memisahkan kita dari kenyataan, dan mengurung kita ke dalam kesalahpahaman.
Mengira konsep sebagai kenyataan adalah salah satu kesalahan terbesar di dalam hidup kita. Ini sama seperti mengira, bahwa mimpi adalah realita. Kita menderita, ketika kita tercabut dari kenyataan, dan terkurung di dalam konsep. Ini sama seperti penderitaan yang kita alami, ketika kita hidup dalam mimpi.
Pengaruhnya juga terasa di dalam hubungan dengan orang lain. Orang yang mengira konsep di dalam kepalanya benar biasanya akan cenderung berselisih pendapat dengan orang lain, yang juga mengira pikirannya adalah kenyataan. Selisih pendapat seringkali tidak berakhir dengan perpisahan, tetapi dengan konflik lebih jauh.
Sebelum Pikiran
Maka, pikiran haruslah dilihat sebagai pikiran. Ia bukanlah kenyataan. Mimpi haruslah dilihat sebagai sekedar mimpi. Ia juga bukanlah kenyataan.
Sambil menyadari ini, kita lalu bertanya, siapa atau apa ini yang sedang berpikir? Siapa atau apa ini yang sedang bermimpi? Jika kita menjawab pertanyaan ini dengan konsep, kita jatuh lagi ke dalam pikiran. Kita harus melepaskan pikiran, konsep dan mimpi, supaya bisa menjawab pertanyaan ini dengan tepat.
Penderitaan dan kebingungan bisa dilampaui, ketika kita berakar kuat di kenyataan. Keduanya otomatis sirna, ketika mimpi dilihat sebagai semata mimpi, dan pikiran dilihat sebagai semata pikiran. Konsep datang dan pergi. Mimpi datang dan pergi. Lalu apa yang menetap? Siapa ini yang sedang membaca?
KATZ!! Matahari bersinar. Angin bertiup. Burung bernyanyi. Gula itu manis.

Sabtu, 24 Desember 2016

HAKIKAT PERMASALAHAN FILSAFAT

HAKIKAT PERMASALAHAN FILSAFAT

Adapun sifat yang membedakan filsafat dari ilmu-ilmu pengetahuan, yang memberikan corak yang khusus  kepadanya ialah : pertanyaan – pertanyaan yang diajukan, persoalan – persoalan yang dihadapinya.
Pertanyaan filsafat  itu meliputi :
a.      Apakah ada hakikatnya barang ini ataukah tidak ada?
b.      Apakah sesungguhnya kebenaran itu?
c.       Apakah sebenarnya manusia itu?
d.      Apakah sebetulnya pertanyaan ini diajukan terhadap “segala sesuatu?”

Demikianlah hakikat permasalahan filsafat itu meliputi hal hal sebagai berikut:
Filsafat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan, suatu bentuk pengetahuan. Orang berhubungan dengan kenyataan melalui pengetahuannya , timbullah soal-soal dan usaha-usaha utnuk memecahkannya yang merupakan pekerjaan pengetahuan pula.
Setiap ilmu pengetahuan adalah usaha untuk mengerti, suatu bentuk pengetahuan.
Dan disamping penting bagi ilmu-ilmu pengetahuan, maka pengetahuan kita ini dalam kehidupan kita sehari-hari  memegang peranan yang tidak kecil pulla. Akan tetapi kebanyakan orang menerima apa adanya, kita dapat mengerti itu sebagai hal yang sangat biasa. Bagi mereka pengetahuan manusia tidaklah merupakan pertanyaan atau persoalan. Mereka telah tidak “heran” algi. Lagi pula semua ilmu pengetahuan itu menerima pengetahuan manusai sebagai suatu kenyataan. Akan tetapi sebenarnya pengetahuan – penegtahuan kita itu suatu hal yang mengagungkan. Maka seorang filsuf merasa “heran” dan menanyakan pada dirinya sendiri tentang :
a.      Apakah sebenarnya pengetahuan kita itu?
b.      Bagaimanakah terjadinya , bagaimanakah mungkin bahwa objek yang ada diluar saya toh seakan – akan dapat masuk dalam pikiran saya?
c.       Apakah pengetahuan itu sungguh dapat dipercayai, walaupun sering ternyata salah?
d.      Dimanakah etak batas – batas pengetahuan kita?
e.      Ataukah kita mungkin mengerti segala galanya
Objek penegtahuan kita adalah semua yang ada. Inilah lapangan filsafat.
Apakah ini dapat dirinci lebih lanjut???
Kita sadar bahwa kita ini ada, tumbuh-tumbuhan ada, batu – batu ada. Tuhan juga ada. Jadi teranglah bahwa “ada” itu adaah unsur yangs ama yang terdapat dalam segala yang ada. Akan tetapi “ada-nya” barang itu berlain-lain, jadi ada tingkatannya.
Jadi yang kita lihat ialah ada kesamaannya, kesatuan, bersamasama dengan kebanyakragaman, kebanyakan. Juga di dalam dunia yang fana ini semua berubah, perubahan dan pergerakan adalah sifat khusus daripada dunia tempat kita hidup.
Misalnya perubahan siang – malam, pertumbuhan mahluk hidup, perkembangan sejarah……kita sendiri juga berubah . dulu anak kecil yang rewel, nakal sekarang mahasiswa, nanti berubah menjadi seorang ahli. Aku ini tetap aku, tetapi telah berubah.
Hidup manusia lebih kita nilai lebih tinggi daripada tumbuh-tumbuhan atau kesehatan kita  nilainya lebih tinggi daripada kesakitan, kita lebih suka hidup terhormat daripada terhina, kita lebih senang hidup daripada mati dan sebagainya.
Apakah nilai itu???dan bagaimanakah dapat kita ketahui? Bagaimanakah dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari ? nilai yang paling banyak kita pergunakan ialah : Baik-buruk. Boleh dikatakan semua kita nilai dengan ukuran ini. Sebab kita yakin bahwa kita wajib berbuat baik dan menolak yang buruk. Jadi harus mengerti pula apakah yang baik dan apakah yang buruk itu.
Ternyata pula ada perhatian antara baik dan bahagia, tetapi apakah kebahagiaan itu dan bagaimanakah kebahagiaan itu dapat dicapai? Selanjutnya apakah yang indah, mulia, baik , yang kita kajar itu.
Jadi nilai-nilai itu merupakan dorongan untuk berbuat , mengarahkan perbuatan dan kegiatan kita. Didalam semua usaha kita maka kita seakan – akan dipimpin oleh suara hati.


Referensi

Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.

CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT

CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT


 Setelah membahas apa itu filsafat dan kegunaan nya , kita tidak pernah tau bagaimana pemikiran itu di sebut pemikiran filsafat tanpa tau cirri-cirinya. Karena tidak semua kegiatan atau berbagai problema kehidupan tersebut dikatakan sampai derajat pemikiran filsafat, tetapi dalam kegiatan atau problema yang terdapat beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat
Berikut beberapa ciri nya
1.      Universal
Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum, dan tingkat keumumannya sangat timggi. Karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan konsep – konsep yang sifatnya umum, misalnya tentang manusia,  tentang keadilan , tentang kebebasan , dan lainnya

2.      Tidak factual
Kata lain dari factual adalah spekulatif, yang artinya filsafat membuat dugaan  dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu hal yang melampaui tapal batas dari fakta-fakta pengetahuan ilmiah.
Jawaban yang didapat dari dugaan – dugaan tersebut sifatnya tidak spekulatif. Hal ini bukan berarti bahwa pemikiran filsafat tidak ilmiah, akan tetapi pemikiran filsafat tidak termasuk dalam lingkungan kewenangan ilmu khusus.

3.      Bersangkutan dengan nilai
Filsafat merupakan usaha untuk mencari pengatahuan , berupa fakta- fakta , yang disebut penilaian. Yang di bicarakan dalam penilaian adalah tentang yang baik dan buruk, yang susila dana asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai. Maka selanjutnya , dibentuklah system nilai, sehingga lahirlah apa yang disebutnya sebagai nilai social, nilai keagamaan, nilai budaya dan nilai lainnya. Tugas fislafat dewasa ini memberikan patokan-patokan dan membicarakan persoalan-persoalan moral yang disajikan kepada manusia oleh lingkungan sosialnya

4.      Berkaitan dengan arti
Sesuatu yang bernilai tentu di dalamnya penuh dengan arti . agar para filosof dalam mengungkapkan ide-idenya sarat dengan arti , para filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa yang tepat . semua itu berguna untuk menghindari adanya kesalahan / sesat pikir

5.      Implikatif
Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat logis). Dari implikasi tersebut  diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru sehingga akan terjadi proses pemikiran baru sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis  dari tesis ke anti tesis kemudian berubah menjadi sintesis, dan seterusnya…. Sehingga tiada habis-habisnya pola pemikiran yang impikastif (dailektif) akan dapat menyuburkan intelektual.




Referensi :

Asmoro Achmadi, Filsafat Umum ,Jakarta : PT Raja Grafindo, 2008

PERMULAAN FILSAFAT ADALAH KEHERANAN

PERMULAAN FILSAFAT ADALAH KEHERANAN….

Menurut Aristoteles , filsafat dimulai dengn suatu thauma (rasa kagum) yang timbul dari suatu aporia, yakni suatu kesulitan yang dialami kaarena adanya percakapan-percakapan yang saling kontradiksi.
Istilah aporia dari bahasa Yunani juga berarti problema, pertanyaan atau “tanpa jalan keluar” . jadi filsafat itu mulai ketika manusia mengaggumi dunia dan berusaha menerangkan berbagai gejala dunia itu. Apabila kita sungguh – sungguh hidup dengan sdar di dunia ini, ta dapat tiada kita tentu akan berhadapan dengan berbagai-bagai pertannyaan dan persoalan. Hasrat akan mengerti itu menyatakan diri dalam bermacam-macam pertanyaan – pertanyaann yang sungguh-sungguh tidak mudah dijawab dengan sekaligus. Ang dapat bertanya demikian itu hanya manusia saja , hewan tidak bertanya tidak mempersoalkan apa yang dialaminya itu.
Lain halnya dengan manusia : waktu ia mulai menyadari dunia , orang lain dan dirinya sendiri , maka heranlah ia tercengang-cengang artinya ia insyaf bahwa ada hal-hal yang tidak dimengertinya , tetapi ingin dan sanggup ia mengertinya. Keheranan iu dapat berpangkal pada hal-hall yang sangat biasa saja, misalnya :tentang bunga, pohon , kucing dan lain-lain.
Dan yang paling aneh dari kesemuanya itu ialah manusai itu sendiri , mengapa dan bagaimana hidupnya dan matinya dan sebagainya.
Manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri , bahkan boleh diakatakan ia adalah teka-teki bagi dirinya sendiri suatu tanda Tanya besar suatu persoalan yang harus dikerjakan sendiri .
Siapakah sebetulnya aku ini? Bagaimanakah dan kemanakah hidupku ini?
Pertanyaan pertanyaan itu semua sering di istilahkan dengan perkataan “rahaisia hidup”. Dengan merenungkan , berpikir- pikir yang demikian ini selalu akan mengantar kita ke dalam “rahasia hidup” itu.  Rahasia artinya pertanyaan atau persoalan yang tak dapat di jawab dengan memeuaskan sepenuhnya, karena jawaban yang diberikan itu selalu menimbulkan status pertanyaan lain lagi sebab selalu ada terkandung arti yang tidak atau belum kita tangkap.
Itulah sebabnya filsafat tak pernah akan selesai penyelidikannya. Dan anehnya ini tidak menyebabkan kita lalu putus asa melainkan sebaliknya.
Kebenaran berubah sifatnya menjadi kekaguman yang memperkaya manusia
 Dalam filsafatlah tersinggung dan terjelma usaha-usaha manusia untuk mencari jawaban – jawaban atas teka-teki itu. Dengan hati terbuka bagi semua yang mengaggumkan dalam kehidupan manusia bertanyalah kita dan akan bertanya terus-menerus , di dorong oleh keinginan akan menyelami rahasia segala sesuatu rahasia hidup kita sendiri, rahasia orang-orang lainnya, rahasia dunia dan rahasia Tuhan sang pencipta semseta alam.

Apakah “kebenaran” itu telah boleh disebut “filsafat”? jawabannya : belum dapat disebut filsafat . kebenaran barulah permulaannnya. Usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, untuk menyelami rahasia itu barulah disebut filsafat apabila dilakukan secara sistematis. Jadi harus dilakukan secara ilmiah. 

Minggu, 11 Desember 2016

PERBANDINGAN ILMU PENGETAHUAN, FILSAFAT DAN AGAMA

PERBANDINGAN ILMU PENGETAHUAN, FILSAFAT DAN AGAMA

Kita telah mengadakan perenungan tentang pengertian yang sedalam-dalamnya dari tiga buah sumber atau wadah kebenaran yaitu ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.
Sebagai kesimpulan dapatlah kita mmengadakan perbandingan di antara ketiganya dengan mencoba melihat unsure – unsure yang menjadi titik persamaan dan titik perbedaannya.
Adapun titik persamaannya adalah sebagai berikut :
1.       Ketiganya baik ilmu pengetahuan, filsafat maupun agama merupakan sumber atau wadah kebenaran atau bentuk pengetahuan
2.       Dalam pencarian kebenaran itu ketiga bentuk pengetahuan itu masing-masing mempunyai metode, system dan mengolah objeknya selengkapnya sampai habis-habisan
3.       Ilmu pengetahuan bertujuan mencari kebenaran tentang mikro kosmos (manusia) , macros – kromos(alam) dan eksistensi Tuhan/Allah.
Agama bertujuan untuk kebahagiaan umat manusia dunia akhirat dengan menunjukkan kebenarana asasi dan mutlak itu, baik mengenai manusia , alam maupun Tuhan/Allah

Disamping itu terdapat pula titik perbedaannya sebagai berikut :
1.       Sumber kebenaran pengetahuan dan flsafat adalah sama, keduannya dari manusia itu sendiri dalam arti pikiran pengalamann dan intuisinya. Oleh karena itu disebut juga bersifat horizontal dan immanent . sumber kebenaran agama adalah dari Allah di langit, karena itu disebut juga bersifat vertical dan transcendental.
2.       Approach (pendekatan) kebenaran ilmu pengetahuan dengan jalan riset (research ) pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai tolak ukurnya

Pendekatan kebenaran filsafat dengan jalan perenungan (spektualif) dari akal budi atau budi murni manusia secara radikal, ssitematis dan universal tanpa pertolongan dan bantuan dari wahyu Allah.

Pendekatan kebenaran agama dengan jalan berpaling k epada wahyu Allah yang dikodifikasikan dalam kitab suci taurat, Injil dan Al-qur’an.
3.       Sifat kebenaran ilmu pengetahuan adalah positif (sampai saat ini) dan nisbi(relatif). Ilmu pengetahuan dimulai dengan keraguan atau bertanya(?), sesuadah meyakini kebenarannya lalu menyetujuinya(!) dan sesudah menyetujuinya lantas bertanya lagi yang dimanefastikan dalam bentuk riset, pengalaman, dan percobaan. Jadi kode rumus ilmu pengetahuan ialah “? !?” . itulah sebabnya ilmu pengetahuan itu berkembang terus sebagai hasil dinamika penelitian itu.

Sedangkan sifat kebenaran filsafat adalah spekulatif yaitu suatu perenungan yang bersifat pendugaan yang mengakar (radikal) menyeluruh (integral) dan menyemesta(universal). Juga bersifat nisbi (relative). Dimulai pula dengan keraguan (?) ,setelah yakin lalu setuju (!) dan sesudah itu ragu dan bertanya lagi (?) untuk mencari jawaban yang mengasas dan mendalam.
Jadi kode rumus filsafat ialah “? ! ?”.

Sifat kebenaran agama adala mutlak (absolute) karena bersumber dari Dzat Yang maha Benar, Maha Mutlak, Maha Sempurn, Maha Bijaksana yaitu : Allah.
Dimulai dengan keimanan dan keyakinan (!), setalah  iman dan yakin menyelidiki kebenaran yang mutlak itu (?), setelah konsisten antara keimanan dan keyakinan dengan ahsil penyelidikannya, maka terjadilah pendalaman keimanan dan keyakinan itu yang disebut taqwa (!).
Jadi kode rumus agama ialah “! ? !” .

4.       Tujuan ilmu pengetahuan itu hanyalah bersifat teoritis, demi ilmu pengetahuan dan umumnya pengalamannya untuk tujuan ekonomi praktis atau kenikmatan jasmani manusia.

Tujuan Filsafat ialah kecintaan kepada pengetahuan yang bijaksana  dengan hasil kedamaian dan kepuasan jiwa yang sedalam dalamnya.

Tujuan agama adalah kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan , keselamatan, keselarasan, keridhaan (keselamatan dalam Islam istilahnya : “salam” seperti uacapan Allah pada ahli sorga di akhirat)



Referensi
Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.