Selasa, 27 Desember 2016

FILOSOFI LAMBANG PROVINSI BANTEN

Arti Lambang Provinsi Banten
Arti Lambang Provinsi Banten

Kubah Mesjid, melambangkan kultur masyarakat yang agamais.

Bintang bersudut lima, melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menara Mesjid Agung Banten, melambangkan semangat tinggi, yang berpedoman pada petunjuk Allah SWT.

Gapura Kaibon, melambangkan Daerah Propinsi Banten sebagai pintu gerbang peradaban dunia, perekonomian dan lalu lintas internasional menuju era globalisasi.
Padi berwarna kuning berjumlah 17 dan kapas berwarna putih berjumlah 8 tangkai, 4 kelopak berwana coklat, 5 kuntum bunga melambangkan Propinsi Banten merupakan daerah agraris, cukup sandang pangan. 17-8-45 menunjukkan Proklamasi Republik Indonesia.

Gunung berwarna hitam, melambangkan kekayaan alam dan menunjukkan dataran rendah serta pegunungan.
Badak bercula satu, melambangkan masyarakat yang pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran dan dilindungi oleh hukum.

Laut berwarna biru, dengan gelombang putih berjumlah 17 melambangkan daerah maritim, kaya dengan potensi lautnya.

Roda gerigi berwarna abu-abu berjumlah 10, menunjukkan orientasi semangat kerja pembangunan dan sektor industri.

Dua garis marka berwarna putih, menunjukkan landasan pacu Bandara Soekarno Hatta.

Lampu bulatan kuning, melambangkan pemacu semangat mencapai cita-cita.

Pita berwarna kuning, melambangkan ikatan persatuan dan kesatuan masyarakat Banten.
Semboyan "IMAN TAQWA" sebagai landasan pembangunan menuju Banten Mandiri, Maju dan Sejahtera.


Merah : melambangkan keberanian
Putih : melambangkan suci, arif dan bijaksana
Kuning : melambangkan kemuliaan, lambang kejayaan dan keluhuran
Hitam : melambangkan keteguhan, kekuatan dan ketabahan hati
Abu-abu : melambangkan ketabahan
Biru : melambangkan kejernihan, kedamaian dan ketenangan
Hijau : melambangkan kesuburan
Coklat : melambangkan kemakmuran

ILMU PENGETAHUAN DAN TANTANGAN GLOBAL

Kita hidup di dunia yang penuh tantangan. Di satu sisi, berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, perang dan kesenjangan sosial di berbagai negara, tetap ada, dan bahkan menyebar. Di sisi lain, krisis lingkungan hidup memicu berbagai bencana alam di berbagai tempat. Kita membutuhkan cara berpikir serta metode yang tepat, guna menghadapi dua tantangan tersebut.
Ilmu pengetahuan mencoba melakukan berbagai penelitian untuk memahami akar masalah, dan menawarkan jalan keluar. Beragam kajian dibuat. Beragam teori dirumuskan. Akan tetapi, seringkali semua itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka yang tidak membawa perubahan nyata.
Bahkan, kini penelitian sedang dilakukan untuk memahami beragam penelitian yang ada. Jadi, “penelitian atas penelitian”. Dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan, kegiatan ini memang perlu dan menarik. Namun, dilihat dari sudut akal sehat sederhana, ini merupakan tanda, bahwa telah ada begitu banyak kajian dan teori yang lahir dari penelitian dengan nilai milyaran dollar, sementara hasilnya masih dipertanyakan.
Banjir Teori
Kondisi ini saya sebut sebagai “banjir teori” dan “banjir kajian”. Kajian dibuat demi kajian itu sendiri. Teori dirumuskan demi teori itu sendiri. Ini merupakan kesalahan berpikir mendasar di dalam dunia akademik sekarang ini.
Kondisi juga menciptakan kebingungan, baik di antara para ilmuwan sendiri, maupun masyarakat luas. Di dalam kebingungan semacam ini, beragam masalah tetap ada. Bahkan, dalam beberapa kasus, masalah-masalah yang ada justru membesar dan menyebar. Uang milyaran dollar pun lenyap begitu saja untuk penelitian-penelitian yang absurd.
Kajian banyak terjadi di level teori. Perdebatan juga terjadi di level teori. Namun, ini jelas tidak cukup. Umat manusia membutuhkan cara berpikir yang baru, guna menghadapi berbagai tantangan dunia.
Hakekat Teori
Teori adalah rangkaian kata-kata ataupun simbol untuk menjelaskan suatu keadaan atau fenomena di dalam dunia. Teori juga merupakan bentuk abstraksi pikiran manusia atas keadaan atau benda di dunia. Dalam arti ini, dapat dengan lugas dikatakan, bahwa teori itu bukanlah kenyataan, melainkan abstraksi yang sekaligus juga berarti penyempitan (reduksi) dari kenyataan itu sendiri. Berteori berarti mencabut unsur-unsur di dalam kenyataan yang dianggap penting, dan berarti mengabaikan atau bahkan membuang hal-hal yang dianggap tidak penting.
Perdebatan pun lalu banyak terjadi di level teoritis. Para ilmuwan sibuk dengan konsep, kata dan simbol. Mereka kerap lupa, bahwa apa yang mereka bicarakan dan teliti itu adalah kehidupan manusia dengan segala kekayaannya. Mereka lalu membangun teori di atas teori, dan begitu terus, sampai tidak lagi memiliki akar di dalam kenyataan.
Jadi, teori tidak membantu manusia untuk memahami kenyataan. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya, yakni teori justru mengaburkan pengetahuan manusia atas kenyataan. Kita tidak lagi dapat memahami realitas sebagaimana adanya, melainkan hanya realitas sebagaimana kita teorikan di dalam kepala dan penelitian kita. Dan karena begitu banyak teori, maka ada begitu banyak “realitas”, dan akhirnya menciptakan kebingungan yang besar.
Dunia akademik menciptakan semacam dunia baru, yakni dunia imajinasi. Dunia imajinasi ini berisi kata, simbol dan teori. Di dalamnya terkandung, harapan dan ketakutan yang ditutupi dengan selubung rumusan, formula, ataupun teori. Semua ini membuat orang tak lagi mampu memahami realitas apa adanya.
Melampaui Teori
Jika kita hanya memahami dunia melalui teori dan konsep di dalam kepala kita, maka kita tidak akan bisa memahami realitas apa adanya. Jika kita tidak dapat memahami realitas apa adanya, maka kita akan tersesat. Kita tidak lagi bisa membedakan antara kenyataan dan ilusi yang muncul di kepala kita. Akibatnya, kita pun bingung, dan tidak dapat menanggapi dengan tepat beragam tantangan yang ada.
Untuk mencegah itu, kita perlu memahami kenyataan apa adanya. Kita perlu bergerak melampaui teori, dan memahami dunia apa adanya. Kata “melampaui” bisa juga diganti dengan kata “sebelum” teori, yakni dunia apa adanya, sebelum kita merumuskan konsep atasnya. Para filsuf fenomenologi Jerman, seperti Edmund Husserl dan Martin Heidegger, menyebutnya sebagai dunia kehidupan (Lebenswelt), yakni dunia prakonseptual (sebelum konsep). Para pemikir filsafat Timur, seperti Seung Sahn dan Lin-Chi, menyebutnya sebagai dunia-tanpa-pikiran.
Bagaimana kita bisa memahami kenyataan apa adanya? Kita harus melepaskan diri dari konsep dan teori. Kita harus melepaskan diri kita dari kebiasaan berpikir konseptual. Dengan ini, lalu kita bisa mencerap (wahrnehmen) kenyataan apa adanya, yakni kenyataan sebelum dan sekaligus melampaui konsep serta teori.
Dalam arti ini, kita tidak lagi memahami (begreifen) kenyataan, melainkan mengalami (erleben) kenyataan. Kita tidak memenjara realitas ke dalam kata dan simbol, melainkan membiarkan realitas itu tampil apa adanya ke dalam kesadaran kita. Kita bergerak ke level sebelum pemikiran, dan kemudian menyentuh realitas apa adanya. Dalam arti ini, tidak ada lagi perbedaan antara aku dan realitas.
Di dalam persentuhan dan kesatuan dengan realitas ini, kita pun mengalami perubahan kesadaran. Cara berpikir kita berubah. Cara hidup kita berubah. Keputusan dan prioritas dalam hidup kita pun lalu ikut berubah.
Kebingungan lenyap. Orang bingung, karena kepalanya dipenuhi konsep dan teori. Keadaan ini menciptakan ketakutan dan harapan berlebihan yang membuat orang tak jernih memandang realitas. Keputusan-keputusan yang ia ambil pun lalu mencerminkan kebingungan di dalam hidupnya.
Sebaliknya, persentuhan langsung dengan realitas membuat teori dan konsep lenyap seketika. Segalanya menjadi jelas dan jernih. Orang tahu, apa yang harus ia lakukan. Pijakannya bukanlah lagi melulu pertimbangan rasional dan logis, melainkan “intuisi”, yakni pengalaman langsung dengan kenyataan.
Dalam keadaan ini, moralitas sebagai seperangkat aturan bertindak tidak lagi diperlukan. Berbuat baik adalah sesuatu yang alamiah, ketika orang menyentuh realitas dengan intuisinya. Berbuat jahat, dalam arti mendorong penderitaan, juga secara alamiah dihindari. Orang tidak dipenuhi oleh “perang teori” dan “perang konsep” di dalam kepalanya soal baik buruk- benar salah, melainkan hidup dengan pikiran jernih, guna menghadapi segala yang ada sesuai keadaan yang nyata.
Dengan kejernihan semacam ini, kita bisa bekerja sama, guna menghadapi berbagai tantangan jaman yang ada. Kita tidak lagi terjebak dengan teori dan konsep. Kita juga tidak lagi terjebak dalam kebingungan dan ketakutan. Namun, keadaan ini haruslah dilatih terus menerus, sehingga ia sungguh menjadi bagian nyata dari kehidupan kita, dan bukan sekedar sensasi sesaat belaka.
Perdamaian yang sejati dapat terbentuk, ketika kita melepaskan ide-ide kita tentang perdamaian. Kita tidak lagi ngotot menciptakan perdamaian “versi kita”. Kita tidak lagi terjebak pada “konsep perdamaian” atau “teori tentang perdamaian” yang kita anggap benar. Ketika kita bisa mencerap kenyataan apa adanya, pada saat itulah, kita bisa mengalami perdamaian sejati di dalam batin, maupun dengan orang sekitar.


Uang dan Hidup Kita

Uang dan Hidup Kita

Kata orang, uang bukanlah segalanya. Namun, segalanya akan susah, jika kita tidak punya uang. Banyak orang, sadar atau tidak, mengabdikan hidupnya untuk mencari uang. Dia mengorbankan hampir segalanya, termasuk orang-orang yang ia cintai, supaya bisa mendapatkan uang lebih banyak. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa uang adalah Tuhannya.
Namun, uang bukanlah barang yang netral. Ia punya efek mengubah hal-hal yang ia sentuh. Efek mengubah ini tidak selalu baik, namun justru bisa merusak nilai dari hal tersebut. Uang juga bisa menciptakan rasa iri yang lahir dari ketidakadilan, ketika orang yang memiliki uang banyak mendapatkan kesempatan lebih banyak, daripada orang yang lebih sedikit uangnya.

Pengaruh Uang
Salah satu yang membuat hidup kita bahagia adalah persahabatan. Seorang sahabat hadir, ketika kita membutuhkan bantuan. Ia juga hadir, ketika kita senang, atau sedang ingin merayakan sesuatu. Apa yang terjadi, ketika kita membayar seseorang, supaya ia mau menjadi sahabat kita?
Seks adalah ekspresi dari cinta. Orang melakukannya, karena mereka saling mencintai. Mereka ingin saling membahagiakan. Apa yang terjadi, jika kita membayar orang, supaya ia mau berhubungan seks dengan kita?
Michael Sandel, di dalam bukunya yang terbaru, What Money Can’t Buy (2013), juga menjelaskan, bahwa uang juga mempengaruhi kinerja orang di dalam pekerjaannya. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang mekanis, seperti administrator atau tukang sapu, uang memang bisa memberikan motivasi tambahan, supaya orang bekerja lebih rajin. Namun, untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan tingkat kreativitas tinggi, uang tidak memberikan dampak apapun, atau justru melunturkan motivasi.
Inilah yang saya sebut sebagai paradoks insentif. Dunia bisnis amat gembira, ketika mereka menemukan mekanisme sederhana, bahwa orang bisa bekerja lebih rajin, karena diberikan uang lebih. Uang lebih inilah yang disebut sebagai insentif. Namun, cara ini tidaklah universal, melainkan hanya berlaku untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu.

Pendidikan
Di beberapa sekolah internasional di Jakarta, anak dibayar dengan jumlah uang tertentu, supaya ia lebih rajin membaca buku. Orang tua dan sekolah setuju dengan cara ini demi satu tujuan, yakni meningkatkan minat baca anak. Harapan mereka, dengan cara ini, anak akhirnya suka membaca buku, lalu ia akan terus membaca buku, walaupun tidak lagi diberikan uang. Namun, seperti saya jelaskan sebelumnya, uang mengubah nilai benda-benda yang disentuhnya, termasuk juga nilai membaca buku.
Ketika anak membaca buku, karena ia dibayar oleh orang tua atau sekolahnya, maka ia akan belajar tentang nilai yang salah. Ia tidak akan bisa menemukan nilai kenikmatan membaca buku, karena nilai itu dilunturkan oleh nilai lainnya, yakni mendapatkan uang. Uang membuat orang belajar tentang hal yang salah. Ia mengaburkan nilai berharga yang hendak diajarkan, dan akhirnya justru memelintirnya menjadi sesuatu yang amat purba, yakni mendapatkan uang untuk memperoleh kenikmatan lebih tinggi.
Ketidakadilan dan Korupsi
Sandel juga menjelaskan, bahwa kehadiran uang juga bisa menciptakan ketidakadilan. Orang-orang yang memiliki uang akan membayar lebih tinggi, sehingga mereka mendapatkan fasilitas lebih banyak. Sementara, orang-orang yang memiliki uang lebih sedikit juga akan mendapatkan fasilitas yang lebih sedikit, atau tidak sama sekali. Jika pola ini berulang di berbagai bidang kehidupan (pendidikan, politik, ekonomi), dan dalam jangka waktu yang lama, maka akan tercipta kesenjangan sosial yang besar, yang berpeluang menciptakan konflik di masyarakat.
Uang juga memiliki efek korup. Dalam arti ini, korupsi berarti penurunan nilai dari apa yang kita kerjakan. Ketika kita membantu orang, kita melihat tindakan kita sebagai sesuatu bernilai. Namun, ketika orang yang kita bantu membayar kita, nilai tindakan kita berubah menjadi semata nilai ekonomi yang bisa diukur dengan uang. Dalam arti ini, nilai membantu telah dikorup menjadi semata nilai ekonomi, karena nilai yang sesungguhnya dari tindakan membantu telah luntur, karena telah disentuh dengan uang.
Uang juga melahirkan godaan yang besar untuk korupi, dalam arti menggunakan uang bersama untuk kepentingan pribadi. Sistem politik dan hukum Indonesia adalah contoh paling jelas, bagaimana uang telah mengaburkan semua nilai, dan menggantinya semata menjadi nilai ekonomi, sehingga mengundang orang untuk melakukan korupsi. Ketika sistem politik dan hukum di posisi puncak telah korup, maka semua segi kehidupan masyarakat lainnya juga akan korup. Ikan membusuk dari kepalanya, lalu seluruh badannya pun akan membusuk.

Uang sebagai Ideologi
Kecenderungan untuk mengukurkan segalanya dari nilai ekonomi disebut juga sebagai die panökonomische Ideologie. Peter Leuprecht di dalam tulisannya yang berjudul Überlegungen zum internationalen Schutz der Menschenrechte (2013)menjelaskan, bahwa cara berpikir ini telah merusak nilai-nilai luhur manusia, yang tercermin di dalam rumusan hak-hak asasi manusia. Ia adalah musuh utama penegakkan hak-hak asasi manusia, baik di tingkal nasional maupun global. Ia mengancam kedamaian hidup bersama, karena setiap orang tergoda untuk menjadi rakus akan uang.
Contoh paling jelas dari panökonomische Ideologie adalah pola politik di Amerika Serikat sekarang ini. Pemerintah dan rakyatnya nyaris tak berdaya menghadapi kekuatan politik perusahaan-perusahaan besar di sana. Motif utama mereka cuma satu, yakni mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Padahal, nilai-nilai tersebut, seperti solidaritas, pengorbanan dan kesetaraan sosial, adalah nilai-nilai yang mengikat AS sebagai satu bangsa.
Ketika nilai-nilai itu luntur, akibat sepak terjang uang yang tanpa aturan, maka masyarakat pun akan ikut hancur. Hidup bersama akan menjadi amat sulit, karena setiap orang menjadi begitu egois untuk mengumpulkan uang lebih dan lebih lagi, kalau perlu dengan merugikan orang lain, atau kepentingan bersama. “Yang Sosial” (das Soziale) yang menjadi dasar dari kebersamaan juga lenyap, dan digantikan oleh egoisme ekstrem. Maka, peran uang harus terus dibatasi dengan peraturan, hukum dan moralitas, supaya ia menjadi alat untuk kebaikan bersama, dan bukan tujuan utama.

Uang dan Krisis Tujuan Hidup
Di dalam artikelnya yang berjudul Philosophie des Geldes: Wir haben die Vernunft verloren (2010), Gerhard Hofweber berusaha menjelaskan, bahwa hidup bersama kita telah kehilangan akal sehatnya, sehingga mendewakan uang di atas segalanya. Pandangan bahwa uang adalah nilai tertinggi adalah kesalahan terbesar peradaban modern. Manusia modern menjadi buta, karena ia tidak bisa membedakan, mana yang merupakan alat, dan mana yang merupakan tujuan.
Hofweber menjelaskan, bahwa pandangan Aristoteles yang berusia lebih dari 2000 tahun yang lalu tentang uang masih bisa menjelaskan situasi kita sekarang ini. Baginya, uang adalah alat bagi satu tujuan tertentu. Artinya, apa yang orang beli dengan uang haruslah memiliki nilai yang lebih tinggi, daripada uang itu sendiri. Jika tidak, maka sebaiknya orang tidak membeli barang tersebut.
Ketika kita membeli barang, maka barang itu haruslah memberikan setitik kebahagiaan (Glück) pada kita. Kebahagiaan yang kita terima tersebut haruslah juga lebih tinggi, daripada uang yang kita keluarkan. Menurut Aristoteles, kebahagiaan adalah tujuan tertinggi hidup manusia. Dalam arti ini, kebahagiaan berarti kepenuhan hidup, dan bukan semata kenikmatan sesaat.
“Apa yang kita lakukan”, demikian tulis Hofweber, kita lakukan pada akhirnya untuk menjadi bahagia.” Maka, uang pun juga harus ditempatkan dalam cara berpikir ini. Uang adalah alat untuk menjadi bahagia, yakni menjadi penuh dalam hidup ini. Namun, untuk mencapai kepenuhan hidup, orang butuh lebih dari sekedar uang. Yang lebih dibutuhkan adalah hidup yang berkeutamaan, yakni hidup yang berpijak pada nilai-nilai luhur dan masuk akal. Uang hanyalah alat semata, guna mencapai tujuan ini.
Sekarang ini, banyak orang lupa pada tujuan hidupnya. Kepenuhan dan kebahagiaan hidup tidak lagi menjadi tujuan. Ketika ini terjadi, maka orang bingung akan perbedaan antara alat dan tujuan. Alat berubah menjadi tujuan. Uang berubah menjadi tujuan, dan akhirnya mengacaukan seluruh tatanan hidup, baik hidup pribadi maupun hidup bersama.
Ketika uang menjadi tujuan, ia lalu dilihat sebagai kebutuhan utama. Yang menyeramkan adalah, kebutuhan akan uang tidak akan pernah cukup. Berapapun pendapatan seseorang, ia tetap akan merasa tidak cukup, karena hidupnya kehilangan tujuan yang sejati, yakni kepenuhan hidup itu sendiri. “Ketika hidup yang baik dan pemikiran yang masuk akal tidak lagi menjadi ukuran”, demikian Hofweber, “maka kebutuhan akan uang akan menjadi tidak terbatas, dan kerakusan adalah dampak logisnya.”
Krisis tujuan hidup dan krisis akal sehat, itulah yang menandai jaman kita sekarang. Dampaknya beragam, mulai dari kecanduan narkoba, sampai dengan kecanduan olah raga ekstrem, guna mengisi kekosongan tujuan hidup tersebut. Perilaku-perilaku aneh mulai bermunculan, mulai dari pesta seks tanpa batas, permainan saham yang amat beresiko, sampai dengan perselingkuhan massal. Semua hal yang membawa kenikmatan sesaat dicoba, guna mengisi kekosongan tujuan hidup dan krisis akal sehat tersebut.
Ironisnya, semua itu tidak akan pernah berhasil membawa kebahagiaan dan kepenuhan hidup. “Apapun usaha kita, selama kita masih berpikir dengan cara lama, selama kita masih mengisi harapan-harapan yang lama,” demikian kata Hofweber, “maka kita tidak akan pernah merasa penuh.” Ia menyebut semua usaha mengisi kekosongan hidup ini sebagai die Perspektive der Maximierung, atau cara pandangan maksimalisasi, yang hendak mengusahakan segala cara, guna mengisi kekosongan hidup, tetapi tidak akan pernah berhasil. Kegagalan ini terjadi, karena kita bingung akan perbedaan antara alat (Mittel) dan tujuan (Zweck) di dalam hidup kita.

Uang dan Tuhan
Michael Bienert menulis artikel dengan judul Philosophie ein Gott namens Geld (2008). Ia melihat, bahwa uang di dalam masyarakat modern telah menjadi sedemikian terlepas dari kontrol manusia. Akibatnya, bukan manusia yang mengontrol uang, melainkan uang yang mengontrol manusia. Uang sudah seperti Tuhan itu sendiri; mampu mendikte tindakan-tindakan manusia.
“Semakin sempurna uang dirasa sebagai alat tukar”, demikian tulis Bienert, “semakin ia abstrak dan tanpa materi, dan semakin ia menjadi universal, maka ia akan semakin mirip dengan Tuhan.” Uang kini tidak lagi berbentuk fisik, baik kertas atau logam. Ia menjadi sekedar nomor kartu kredit atau kartu debet. Ia menjadi semakin abstrak, jauh dari jangkauan tangan fisik manusia.
Namun, pengaruhnya justru semakin besar. Orang bisa menggunakannya, walau tak mempunyainya, misalnya seperti kredit. Ia punya kekuatan besar, bahkan bisa mengubah salah menjadi benar, misalnya dengan menyewa pengacara bertarif tinggi untuk menyelamatkan koruptor dari hukuman penjara. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa uang telah menjadi Tuhan yang mengatur hidup manusia, walaupun uang adalah ciptaan manusia itu sendiri.
Banyak orang percaya, bahwa manusia itu bebas. Namun, mereka lupa, bahwa kebebasan pun ada harganya. Untuk memiliki dan menikmati kebebasan, orang perlu uang. Untuk menikmati perjalanan liburan yang menyegarkan, orang perlu membeli tiket pesawat. Untuk bisa menikmati buku yang bagus, orang perlu uang untuk membeli buku itu. Tak berlebihan juga jika dikatakan, uang adalah prasyarat untuk kebebasan.

Uang dan Hubungan antar Manusia
Yang juga diperhatikan oleh Bienert, dengan menggunakan kerangka teori dari Georg Simmel di dalam bukunya yang berjudul Philosophie des Geldes, adalah bagaimana uang justru menghancurkan kultur dan nilai-nilai sosial yang ada. Di kota-kota besar Jerman awal abad 20, seperti Berlin, sebagaimana dinyatakan oleh Simmel, uang menjadi begitu penting. Ia berperan tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai penentu hubungan antar manusia.
Logisnya, dengan adanya uang, maka hidup akan semakin makmur, dan manusia justru akan menjadi bahagia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Uang justru mengkorupsi hubungan antara manusia. Ketika cinta dan persahabatan bercampur baur dengan uang, maka nilai keduanya akan terkorupsi, dan menjadi rendah nilainya. Uang memungkinkan sekaligus menghancurkan kultur dan hubungan antar manusia itu sendiri.

Melampaui Uang
Belajar dari pemaparan Sandel, Leuprecht, Bienert dan Simmel, kita jadi sadar, bagaimana uang tidak pernah netral di dalam hidup manusia. Uang membawa pengaruh yang besar bagi setiap hal yang disentuhnya. Ia berfungsi sebagai pemberi motivasi (insentif), atau justru mengkorupsi nilai-nilai luhur yang ada, sehingga menjadi rendah. Ia memicu kinerja, sekaligus menghancurkan cinta, persahabatan serta solidaritas sosial yang mengikat kehidupan bersama manusia.
Belajar dari Hofweber, kita perlu untuk menempatkan uang ke tempat asalnya, yakni sebagai alat dari tujuan hidup manusia yang lebih tinggi, yakni kebahagiaan dan kepenuhan hidup. Untuk itu, kita perlu menggunakan pikiran kita tidak hanya untuk mencari dan mengumpulkan uang, tetapi untuk bertanya ulang, apa yang membuat hidup kita sebagai manusia itu penuh, dan apa tujuan sebenarnya dari semua yang kita lakukan. Untuk itu, kita perlu melampaui cara berpikir teknis. Atau apa yang Heidegger tawarkan dalam buku kecilnya Was heißt Denken sebagai berpikir dalam artinya yang paling sejati.
Dalam konteks politik, uang perlu diatur sedemikian rupa, sehingga ia tidak mengaburkan nilai-nilai sosial yang ada. Sistem keuangan, baik dalam bentuk investasi saham ataupun bentuk-bentuk derivasinya, perlu untuk diatur sedemikian ketat, sehingga ia tidak merusak stabilitas politik yang ada. Pasar bebas, yang membiarkan uang bergerak tanpa aturan, dan akhirnya merasuk ke dalam berbagai sendi kehidupan manusia, adalah ilusi yang hanya akan membawa pada kehancuran dan krisis berkepanjangan. Ini semua perlu dilakukan, supaya kita tidak salah kaprah, karena melihat uang sebagai Tuhan.





Hidup Bagai DIatas Perahu

Dibalik keindahan sebuah lautan yang terbentang luas, ada perasaan berbeda apabila kita benar-benar berada diatasnya, lautan yang kita lihat seluas mata memandang seolah-olah tiada tepian lagi selain tepian yang sedang kita pijak. Gelombang ombak seolah-olah menyambut dan mengajak kita untuk ikut dalam riaknya. yaitu perasaan senang /takjub terhadap kekuasaan Allah Swt. dan perasaan ketakutan atas ancaman gelombang yang maha dahsyat.
Marilah kita renungkan sejenak tentang Perjalanan hidup kita. Hidup ini bagaikan perahu layar yang berlayar ditengah lautan yang hanya mengandalkan angin untuk berlayar agar sampai didermaga tujuan. Sang nahkoda harus benar-benar pintar dalam membaca dan memanfaatkan arah angin, sehingga perahunya dapat berlayar dengan kencang dan cepat sampai ditempat tujuan.
Perahu adalah diri kita, Nahkoda adalah akal dan pikiran kita, Lautan itu adalah bumi tempat kita hidup, Angin adalah kesempatan dalam hidup kita, Ombak besar dan Badai adalah rintangan dalam kehidupan kita, dan dermaga tujuan adalah cita-cita hidup kita
Akal pikiran kita sebagai nahkoda harus bisa mengendalikan diri kita sebagai perahu dalam mengarungi hidup, untuk bisa mencapai dermaga yang kita cita-citakan kita harus bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang datangnya seperti angin, yang kita sendiri tidak tahu kapan dan kapan angin akan datang dan pergi, kita juga tidak bisa mengetahui angin yang datang akan besar dan kecil. Kita sebagai manusia hanya bisa menerka dan menerka sambil mencoba meramalkan sesuai dengan kebiasaan yang pernah terjadi. kita juga harus memilki tulang kawat urat besi untuk mengalahkan ombak besar dan badai yang merintangi perjalanan hidup kita
Kita harus pandai dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang baik, jangan pernah berkata tidak untuk kebaikan, tidak mudah menyerah, dan selalu berdoa dan berusaha untuk mencapai apa yang kita cita-citakan.🙂

FILOFOSI "TUT WURI HANDAYANI"

Ketika berbicara mengenai filosofi kepemimpinan, ternyata Indonesia juga memiliki filosofi yang memiliki makna yang cukup mendalam. Filosofi tersebut dijabarkan dalam tiga kalimat berbahasa Jawa : : ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, yang menciptakan filosofi ini saat mendirikan Taman Siswa sebagai tempat belajar bagi pribumi pada masa penjajahan Belanda.
Pada awalnya filosofi ini ditujukan kepada pendidik agar bisa menginspirasi, memberikan teladan dan memotivasi siswanya. Namun filosofi ini ternyata sangat pas pula untuk seorang pemimpin , karena sejatinya seorang pemimpin bersesuaian dengan figur seorang guru yang mendidik murid-muridnya.
Apa sih makna dari ketiga filosofi tersebut? Yuk kita bahas bersama.
1.    Ing Ngarsa Sung Tuladha
”Ing Ngarsa Sung Tuladha” berarti dari depan memberikan teladan. Seorang pemimpin merupakan orang yang akan dilihat oleh seluruh orang yang dipimpinnya. Sehingga, sebagai pemimpin harus bisa menjadi teladan, pembimbing, dan memberikan contoh kepada yang dipimpin. Ketika seorang pemimpin itu di depan, ia tidak serta merta hanya memerintah. Seorang pemimpin harusnya memberikan teladan dan tanggungjawab untuk membawa kepada visi bersama yang telah direncanakan.
2.     Ing Madya Mangun Karsa
”Ing Madya Mangun Karsa” berarti di tengah menggugah semangat. Seorang pemimpin dalam ketika berada di tengah-tengah yang dipimpin harus bisa mengayomi, menjalin kebersamaan, dan memotivasi untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus bisa merangkul yang dipimpinnya, mau menerima kritik dan saran, serta mampu menggugah semangat bersama untuk meraih visi bersama. Saat di tengah-tengah pemimpin harus bisa membuat atmosfer organisasi menjadi positif, sehingga akan muncul semangat bersama untuk saling memotivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
3.    Tut Wuri Handayani
”Tut Wuri Handayani” berarti dari belakang memberikan dorongan. Seorang pemimpin juga harus bisa menempatkan diri di belakang untuk mendorong individu-individu dalam organisasi yang dipimpinnya berada di depan untuk memperoleh kemajuan dan prestasi. Pemimpin diharapkan mampu untuk mendidik dan mengembangkan yang dipimpinnya agar terbentuk pula pemimpin-pemimpin baru sehingga tercipta proses regenerasi. Sesuai dengan kata pepatah yang menyebutkan Pemimpin yang baik adalah ia yang mampu menyiapkan pemimpin selanjutnya yang lebih baik dari dirinya.

Dari tiga kalimat dalam filosofi di atas, kita dapat belajar bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu memberikan sebuah peran kepada yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang baik harus bisa menempatkan diri dan peka terhadap lingkungan sekitar. Pemimpin harus bisa menempatkan diri di depan untuk memberikan teladan, di tengah untuk memberikan semangat, dan di belakang untuk memberikan dorongan, demi tujuan yang disepakati bersama.
Kita semua berharap Negeri ini akan banyak memiliki pemimpin yang mampu benar-benar memimpin sesuai dengan filosofi kepemimpinan tadi. Bukan pemimpin yang hanya mementingkan ego pribadi dan golongan, tapi pemimpin yang mampu menginspirasi dan membawa Indonesia menjadi lebih baik. Buat Ibu Pertiwi tersenyum dengan karya kita, mari menjadi pemimpin yang luar biasa untuk Indonesia. 


“Digugu dan di Tiru”

“Digugu dan di Tiru”

Guru dalam filosofi Bahasa Jawa adalah sebuah kata yang mempunyai makna "digugu lan ditiru". Maksud dari digugu lan ditiruadalah bahwa seorang guru harus bisa memenuhi 2 kata tersebut, yakni pertama digugu  yang artinya bahwa perkataannya harus bisa dijadikan panutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban tersebut baik yang berupa alasan-alasan maupun bukti-bukti yang logis dalam penyampaian sesuatu terhadap siswanya maupun kepada masyarakat umum. Maka dari itu seorang guru harus mempunyai kewibawaan juga wawasan yang cukup tinggi, sebab apapun yang diucapkannya akan dianggap benar oleh murid-muridnya.


Yang kedua, sosok seorang guru harus bisa ditiru, baik tingkah lakunya, segala hal yang diucapkannya (pengetahuannya), semangatnya, dan budi pekertinya harus bisa dijadikan teladan. Sehingga dengan terpenuhinya kedua kata tersebut yaitu "digugu lan ditiru" maka tujuan pendidikan niscaya akan dicapai dengan baik.


Profesi seorang guru tidaklah hanya semata-mata sebuah pekerjaan yang mengajar anak didik. Tetapi, tugas dan peran guru jauh lebih berat dan sangat mulia, yaitu menyiapkan masa depan. Hasil karya guru sangat diharapkan untuk bisa melukis masa depan Indonesia, sebagai ujung tombak dan penentu masa depan bangsa. Sosok seorang guru harus mampu menjadi teladan pembelajar yang tidak henti-hentinya untuk terus belajar dan menstransfer ilmunya kepada anak didik demi meraih masa depannya dan demi kemajuan bangsa tercinta ini.


FILOSOFI BAKAR BAN DEMO

FILOSOFI BAKAR BAN DEMO

bakar!! bakar!! bakar!!
itu selalu aku bertanya-tanya , apa gunanya mereka bakar ban setiap melakukan aksi?apa ada filosofinya??


 Bakar Ban adalah simbol perlawanan terhadap kapitalis
Ban mobil adalah produk ekonomi kapitalis.

- Bakar Ban akan menimbulkan api dan asap yang sangat kental dan proses pembakarannya lebih bertahan lama. Asap hitam bisa disimbolkan hitamnya kinerja para pemimpin. Sedangkan api adalah simbol kemarahan terhadap kondisi yang terjadi.

- Bakar Ban dianggap lebih wajar dibanding Bakar Ayam atau Bakar Ikan, "Ini kan demontrasi!!! Bukan demo masak!!! Hahaha.

- Kenapa harus Bakar Ban? Apa tidak bisa diganti dengan membakar Kayu Bakar? "Inikan demontrasi Bung!!! Lu kata ini lagi di Puncak apa??? Bikin api unggun segala??? Hahaha.

- Karena demonya berkaitan dengan Bahan Bakar, maka diadakan acara Bakar Membakar, hehe.

Mungkin itulah kemungkinan mengapa mereka membakar ban saat aksi demontrasi, tetapi kawan, Janganlah kau ganggu penjual Ban bekas itu!! Dan janganlah kau Bakar Ban di jalan karena jalan bukanlah tempat acara Bakar-Bakaran, hehe.
Salam Damai.