Selasa, 27 Desember 2016

Uang dan Hidup Kita

Uang dan Hidup Kita

Kata orang, uang bukanlah segalanya. Namun, segalanya akan susah, jika kita tidak punya uang. Banyak orang, sadar atau tidak, mengabdikan hidupnya untuk mencari uang. Dia mengorbankan hampir segalanya, termasuk orang-orang yang ia cintai, supaya bisa mendapatkan uang lebih banyak. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa uang adalah Tuhannya.
Namun, uang bukanlah barang yang netral. Ia punya efek mengubah hal-hal yang ia sentuh. Efek mengubah ini tidak selalu baik, namun justru bisa merusak nilai dari hal tersebut. Uang juga bisa menciptakan rasa iri yang lahir dari ketidakadilan, ketika orang yang memiliki uang banyak mendapatkan kesempatan lebih banyak, daripada orang yang lebih sedikit uangnya.

Pengaruh Uang
Salah satu yang membuat hidup kita bahagia adalah persahabatan. Seorang sahabat hadir, ketika kita membutuhkan bantuan. Ia juga hadir, ketika kita senang, atau sedang ingin merayakan sesuatu. Apa yang terjadi, ketika kita membayar seseorang, supaya ia mau menjadi sahabat kita?
Seks adalah ekspresi dari cinta. Orang melakukannya, karena mereka saling mencintai. Mereka ingin saling membahagiakan. Apa yang terjadi, jika kita membayar orang, supaya ia mau berhubungan seks dengan kita?
Michael Sandel, di dalam bukunya yang terbaru, What Money Can’t Buy (2013), juga menjelaskan, bahwa uang juga mempengaruhi kinerja orang di dalam pekerjaannya. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang mekanis, seperti administrator atau tukang sapu, uang memang bisa memberikan motivasi tambahan, supaya orang bekerja lebih rajin. Namun, untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan tingkat kreativitas tinggi, uang tidak memberikan dampak apapun, atau justru melunturkan motivasi.
Inilah yang saya sebut sebagai paradoks insentif. Dunia bisnis amat gembira, ketika mereka menemukan mekanisme sederhana, bahwa orang bisa bekerja lebih rajin, karena diberikan uang lebih. Uang lebih inilah yang disebut sebagai insentif. Namun, cara ini tidaklah universal, melainkan hanya berlaku untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu.

Pendidikan
Di beberapa sekolah internasional di Jakarta, anak dibayar dengan jumlah uang tertentu, supaya ia lebih rajin membaca buku. Orang tua dan sekolah setuju dengan cara ini demi satu tujuan, yakni meningkatkan minat baca anak. Harapan mereka, dengan cara ini, anak akhirnya suka membaca buku, lalu ia akan terus membaca buku, walaupun tidak lagi diberikan uang. Namun, seperti saya jelaskan sebelumnya, uang mengubah nilai benda-benda yang disentuhnya, termasuk juga nilai membaca buku.
Ketika anak membaca buku, karena ia dibayar oleh orang tua atau sekolahnya, maka ia akan belajar tentang nilai yang salah. Ia tidak akan bisa menemukan nilai kenikmatan membaca buku, karena nilai itu dilunturkan oleh nilai lainnya, yakni mendapatkan uang. Uang membuat orang belajar tentang hal yang salah. Ia mengaburkan nilai berharga yang hendak diajarkan, dan akhirnya justru memelintirnya menjadi sesuatu yang amat purba, yakni mendapatkan uang untuk memperoleh kenikmatan lebih tinggi.
Ketidakadilan dan Korupsi
Sandel juga menjelaskan, bahwa kehadiran uang juga bisa menciptakan ketidakadilan. Orang-orang yang memiliki uang akan membayar lebih tinggi, sehingga mereka mendapatkan fasilitas lebih banyak. Sementara, orang-orang yang memiliki uang lebih sedikit juga akan mendapatkan fasilitas yang lebih sedikit, atau tidak sama sekali. Jika pola ini berulang di berbagai bidang kehidupan (pendidikan, politik, ekonomi), dan dalam jangka waktu yang lama, maka akan tercipta kesenjangan sosial yang besar, yang berpeluang menciptakan konflik di masyarakat.
Uang juga memiliki efek korup. Dalam arti ini, korupsi berarti penurunan nilai dari apa yang kita kerjakan. Ketika kita membantu orang, kita melihat tindakan kita sebagai sesuatu bernilai. Namun, ketika orang yang kita bantu membayar kita, nilai tindakan kita berubah menjadi semata nilai ekonomi yang bisa diukur dengan uang. Dalam arti ini, nilai membantu telah dikorup menjadi semata nilai ekonomi, karena nilai yang sesungguhnya dari tindakan membantu telah luntur, karena telah disentuh dengan uang.
Uang juga melahirkan godaan yang besar untuk korupi, dalam arti menggunakan uang bersama untuk kepentingan pribadi. Sistem politik dan hukum Indonesia adalah contoh paling jelas, bagaimana uang telah mengaburkan semua nilai, dan menggantinya semata menjadi nilai ekonomi, sehingga mengundang orang untuk melakukan korupsi. Ketika sistem politik dan hukum di posisi puncak telah korup, maka semua segi kehidupan masyarakat lainnya juga akan korup. Ikan membusuk dari kepalanya, lalu seluruh badannya pun akan membusuk.

Uang sebagai Ideologi
Kecenderungan untuk mengukurkan segalanya dari nilai ekonomi disebut juga sebagai die panökonomische Ideologie. Peter Leuprecht di dalam tulisannya yang berjudul Überlegungen zum internationalen Schutz der Menschenrechte (2013)menjelaskan, bahwa cara berpikir ini telah merusak nilai-nilai luhur manusia, yang tercermin di dalam rumusan hak-hak asasi manusia. Ia adalah musuh utama penegakkan hak-hak asasi manusia, baik di tingkal nasional maupun global. Ia mengancam kedamaian hidup bersama, karena setiap orang tergoda untuk menjadi rakus akan uang.
Contoh paling jelas dari panökonomische Ideologie adalah pola politik di Amerika Serikat sekarang ini. Pemerintah dan rakyatnya nyaris tak berdaya menghadapi kekuatan politik perusahaan-perusahaan besar di sana. Motif utama mereka cuma satu, yakni mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Padahal, nilai-nilai tersebut, seperti solidaritas, pengorbanan dan kesetaraan sosial, adalah nilai-nilai yang mengikat AS sebagai satu bangsa.
Ketika nilai-nilai itu luntur, akibat sepak terjang uang yang tanpa aturan, maka masyarakat pun akan ikut hancur. Hidup bersama akan menjadi amat sulit, karena setiap orang menjadi begitu egois untuk mengumpulkan uang lebih dan lebih lagi, kalau perlu dengan merugikan orang lain, atau kepentingan bersama. “Yang Sosial” (das Soziale) yang menjadi dasar dari kebersamaan juga lenyap, dan digantikan oleh egoisme ekstrem. Maka, peran uang harus terus dibatasi dengan peraturan, hukum dan moralitas, supaya ia menjadi alat untuk kebaikan bersama, dan bukan tujuan utama.

Uang dan Krisis Tujuan Hidup
Di dalam artikelnya yang berjudul Philosophie des Geldes: Wir haben die Vernunft verloren (2010), Gerhard Hofweber berusaha menjelaskan, bahwa hidup bersama kita telah kehilangan akal sehatnya, sehingga mendewakan uang di atas segalanya. Pandangan bahwa uang adalah nilai tertinggi adalah kesalahan terbesar peradaban modern. Manusia modern menjadi buta, karena ia tidak bisa membedakan, mana yang merupakan alat, dan mana yang merupakan tujuan.
Hofweber menjelaskan, bahwa pandangan Aristoteles yang berusia lebih dari 2000 tahun yang lalu tentang uang masih bisa menjelaskan situasi kita sekarang ini. Baginya, uang adalah alat bagi satu tujuan tertentu. Artinya, apa yang orang beli dengan uang haruslah memiliki nilai yang lebih tinggi, daripada uang itu sendiri. Jika tidak, maka sebaiknya orang tidak membeli barang tersebut.
Ketika kita membeli barang, maka barang itu haruslah memberikan setitik kebahagiaan (Glück) pada kita. Kebahagiaan yang kita terima tersebut haruslah juga lebih tinggi, daripada uang yang kita keluarkan. Menurut Aristoteles, kebahagiaan adalah tujuan tertinggi hidup manusia. Dalam arti ini, kebahagiaan berarti kepenuhan hidup, dan bukan semata kenikmatan sesaat.
“Apa yang kita lakukan”, demikian tulis Hofweber, kita lakukan pada akhirnya untuk menjadi bahagia.” Maka, uang pun juga harus ditempatkan dalam cara berpikir ini. Uang adalah alat untuk menjadi bahagia, yakni menjadi penuh dalam hidup ini. Namun, untuk mencapai kepenuhan hidup, orang butuh lebih dari sekedar uang. Yang lebih dibutuhkan adalah hidup yang berkeutamaan, yakni hidup yang berpijak pada nilai-nilai luhur dan masuk akal. Uang hanyalah alat semata, guna mencapai tujuan ini.
Sekarang ini, banyak orang lupa pada tujuan hidupnya. Kepenuhan dan kebahagiaan hidup tidak lagi menjadi tujuan. Ketika ini terjadi, maka orang bingung akan perbedaan antara alat dan tujuan. Alat berubah menjadi tujuan. Uang berubah menjadi tujuan, dan akhirnya mengacaukan seluruh tatanan hidup, baik hidup pribadi maupun hidup bersama.
Ketika uang menjadi tujuan, ia lalu dilihat sebagai kebutuhan utama. Yang menyeramkan adalah, kebutuhan akan uang tidak akan pernah cukup. Berapapun pendapatan seseorang, ia tetap akan merasa tidak cukup, karena hidupnya kehilangan tujuan yang sejati, yakni kepenuhan hidup itu sendiri. “Ketika hidup yang baik dan pemikiran yang masuk akal tidak lagi menjadi ukuran”, demikian Hofweber, “maka kebutuhan akan uang akan menjadi tidak terbatas, dan kerakusan adalah dampak logisnya.”
Krisis tujuan hidup dan krisis akal sehat, itulah yang menandai jaman kita sekarang. Dampaknya beragam, mulai dari kecanduan narkoba, sampai dengan kecanduan olah raga ekstrem, guna mengisi kekosongan tujuan hidup tersebut. Perilaku-perilaku aneh mulai bermunculan, mulai dari pesta seks tanpa batas, permainan saham yang amat beresiko, sampai dengan perselingkuhan massal. Semua hal yang membawa kenikmatan sesaat dicoba, guna mengisi kekosongan tujuan hidup dan krisis akal sehat tersebut.
Ironisnya, semua itu tidak akan pernah berhasil membawa kebahagiaan dan kepenuhan hidup. “Apapun usaha kita, selama kita masih berpikir dengan cara lama, selama kita masih mengisi harapan-harapan yang lama,” demikian kata Hofweber, “maka kita tidak akan pernah merasa penuh.” Ia menyebut semua usaha mengisi kekosongan hidup ini sebagai die Perspektive der Maximierung, atau cara pandangan maksimalisasi, yang hendak mengusahakan segala cara, guna mengisi kekosongan hidup, tetapi tidak akan pernah berhasil. Kegagalan ini terjadi, karena kita bingung akan perbedaan antara alat (Mittel) dan tujuan (Zweck) di dalam hidup kita.

Uang dan Tuhan
Michael Bienert menulis artikel dengan judul Philosophie ein Gott namens Geld (2008). Ia melihat, bahwa uang di dalam masyarakat modern telah menjadi sedemikian terlepas dari kontrol manusia. Akibatnya, bukan manusia yang mengontrol uang, melainkan uang yang mengontrol manusia. Uang sudah seperti Tuhan itu sendiri; mampu mendikte tindakan-tindakan manusia.
“Semakin sempurna uang dirasa sebagai alat tukar”, demikian tulis Bienert, “semakin ia abstrak dan tanpa materi, dan semakin ia menjadi universal, maka ia akan semakin mirip dengan Tuhan.” Uang kini tidak lagi berbentuk fisik, baik kertas atau logam. Ia menjadi sekedar nomor kartu kredit atau kartu debet. Ia menjadi semakin abstrak, jauh dari jangkauan tangan fisik manusia.
Namun, pengaruhnya justru semakin besar. Orang bisa menggunakannya, walau tak mempunyainya, misalnya seperti kredit. Ia punya kekuatan besar, bahkan bisa mengubah salah menjadi benar, misalnya dengan menyewa pengacara bertarif tinggi untuk menyelamatkan koruptor dari hukuman penjara. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa uang telah menjadi Tuhan yang mengatur hidup manusia, walaupun uang adalah ciptaan manusia itu sendiri.
Banyak orang percaya, bahwa manusia itu bebas. Namun, mereka lupa, bahwa kebebasan pun ada harganya. Untuk memiliki dan menikmati kebebasan, orang perlu uang. Untuk menikmati perjalanan liburan yang menyegarkan, orang perlu membeli tiket pesawat. Untuk bisa menikmati buku yang bagus, orang perlu uang untuk membeli buku itu. Tak berlebihan juga jika dikatakan, uang adalah prasyarat untuk kebebasan.

Uang dan Hubungan antar Manusia
Yang juga diperhatikan oleh Bienert, dengan menggunakan kerangka teori dari Georg Simmel di dalam bukunya yang berjudul Philosophie des Geldes, adalah bagaimana uang justru menghancurkan kultur dan nilai-nilai sosial yang ada. Di kota-kota besar Jerman awal abad 20, seperti Berlin, sebagaimana dinyatakan oleh Simmel, uang menjadi begitu penting. Ia berperan tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai penentu hubungan antar manusia.
Logisnya, dengan adanya uang, maka hidup akan semakin makmur, dan manusia justru akan menjadi bahagia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Uang justru mengkorupsi hubungan antara manusia. Ketika cinta dan persahabatan bercampur baur dengan uang, maka nilai keduanya akan terkorupsi, dan menjadi rendah nilainya. Uang memungkinkan sekaligus menghancurkan kultur dan hubungan antar manusia itu sendiri.

Melampaui Uang
Belajar dari pemaparan Sandel, Leuprecht, Bienert dan Simmel, kita jadi sadar, bagaimana uang tidak pernah netral di dalam hidup manusia. Uang membawa pengaruh yang besar bagi setiap hal yang disentuhnya. Ia berfungsi sebagai pemberi motivasi (insentif), atau justru mengkorupsi nilai-nilai luhur yang ada, sehingga menjadi rendah. Ia memicu kinerja, sekaligus menghancurkan cinta, persahabatan serta solidaritas sosial yang mengikat kehidupan bersama manusia.
Belajar dari Hofweber, kita perlu untuk menempatkan uang ke tempat asalnya, yakni sebagai alat dari tujuan hidup manusia yang lebih tinggi, yakni kebahagiaan dan kepenuhan hidup. Untuk itu, kita perlu menggunakan pikiran kita tidak hanya untuk mencari dan mengumpulkan uang, tetapi untuk bertanya ulang, apa yang membuat hidup kita sebagai manusia itu penuh, dan apa tujuan sebenarnya dari semua yang kita lakukan. Untuk itu, kita perlu melampaui cara berpikir teknis. Atau apa yang Heidegger tawarkan dalam buku kecilnya Was heißt Denken sebagai berpikir dalam artinya yang paling sejati.
Dalam konteks politik, uang perlu diatur sedemikian rupa, sehingga ia tidak mengaburkan nilai-nilai sosial yang ada. Sistem keuangan, baik dalam bentuk investasi saham ataupun bentuk-bentuk derivasinya, perlu untuk diatur sedemikian ketat, sehingga ia tidak merusak stabilitas politik yang ada. Pasar bebas, yang membiarkan uang bergerak tanpa aturan, dan akhirnya merasuk ke dalam berbagai sendi kehidupan manusia, adalah ilusi yang hanya akan membawa pada kehancuran dan krisis berkepanjangan. Ini semua perlu dilakukan, supaya kita tidak salah kaprah, karena melihat uang sebagai Tuhan.





Hidup Bagai DIatas Perahu

Dibalik keindahan sebuah lautan yang terbentang luas, ada perasaan berbeda apabila kita benar-benar berada diatasnya, lautan yang kita lihat seluas mata memandang seolah-olah tiada tepian lagi selain tepian yang sedang kita pijak. Gelombang ombak seolah-olah menyambut dan mengajak kita untuk ikut dalam riaknya. yaitu perasaan senang /takjub terhadap kekuasaan Allah Swt. dan perasaan ketakutan atas ancaman gelombang yang maha dahsyat.
Marilah kita renungkan sejenak tentang Perjalanan hidup kita. Hidup ini bagaikan perahu layar yang berlayar ditengah lautan yang hanya mengandalkan angin untuk berlayar agar sampai didermaga tujuan. Sang nahkoda harus benar-benar pintar dalam membaca dan memanfaatkan arah angin, sehingga perahunya dapat berlayar dengan kencang dan cepat sampai ditempat tujuan.
Perahu adalah diri kita, Nahkoda adalah akal dan pikiran kita, Lautan itu adalah bumi tempat kita hidup, Angin adalah kesempatan dalam hidup kita, Ombak besar dan Badai adalah rintangan dalam kehidupan kita, dan dermaga tujuan adalah cita-cita hidup kita
Akal pikiran kita sebagai nahkoda harus bisa mengendalikan diri kita sebagai perahu dalam mengarungi hidup, untuk bisa mencapai dermaga yang kita cita-citakan kita harus bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang datangnya seperti angin, yang kita sendiri tidak tahu kapan dan kapan angin akan datang dan pergi, kita juga tidak bisa mengetahui angin yang datang akan besar dan kecil. Kita sebagai manusia hanya bisa menerka dan menerka sambil mencoba meramalkan sesuai dengan kebiasaan yang pernah terjadi. kita juga harus memilki tulang kawat urat besi untuk mengalahkan ombak besar dan badai yang merintangi perjalanan hidup kita
Kita harus pandai dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang baik, jangan pernah berkata tidak untuk kebaikan, tidak mudah menyerah, dan selalu berdoa dan berusaha untuk mencapai apa yang kita cita-citakan.🙂

FILOFOSI "TUT WURI HANDAYANI"

Ketika berbicara mengenai filosofi kepemimpinan, ternyata Indonesia juga memiliki filosofi yang memiliki makna yang cukup mendalam. Filosofi tersebut dijabarkan dalam tiga kalimat berbahasa Jawa : : ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, yang menciptakan filosofi ini saat mendirikan Taman Siswa sebagai tempat belajar bagi pribumi pada masa penjajahan Belanda.
Pada awalnya filosofi ini ditujukan kepada pendidik agar bisa menginspirasi, memberikan teladan dan memotivasi siswanya. Namun filosofi ini ternyata sangat pas pula untuk seorang pemimpin , karena sejatinya seorang pemimpin bersesuaian dengan figur seorang guru yang mendidik murid-muridnya.
Apa sih makna dari ketiga filosofi tersebut? Yuk kita bahas bersama.
1.    Ing Ngarsa Sung Tuladha
”Ing Ngarsa Sung Tuladha” berarti dari depan memberikan teladan. Seorang pemimpin merupakan orang yang akan dilihat oleh seluruh orang yang dipimpinnya. Sehingga, sebagai pemimpin harus bisa menjadi teladan, pembimbing, dan memberikan contoh kepada yang dipimpin. Ketika seorang pemimpin itu di depan, ia tidak serta merta hanya memerintah. Seorang pemimpin harusnya memberikan teladan dan tanggungjawab untuk membawa kepada visi bersama yang telah direncanakan.
2.     Ing Madya Mangun Karsa
”Ing Madya Mangun Karsa” berarti di tengah menggugah semangat. Seorang pemimpin dalam ketika berada di tengah-tengah yang dipimpin harus bisa mengayomi, menjalin kebersamaan, dan memotivasi untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus bisa merangkul yang dipimpinnya, mau menerima kritik dan saran, serta mampu menggugah semangat bersama untuk meraih visi bersama. Saat di tengah-tengah pemimpin harus bisa membuat atmosfer organisasi menjadi positif, sehingga akan muncul semangat bersama untuk saling memotivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
3.    Tut Wuri Handayani
”Tut Wuri Handayani” berarti dari belakang memberikan dorongan. Seorang pemimpin juga harus bisa menempatkan diri di belakang untuk mendorong individu-individu dalam organisasi yang dipimpinnya berada di depan untuk memperoleh kemajuan dan prestasi. Pemimpin diharapkan mampu untuk mendidik dan mengembangkan yang dipimpinnya agar terbentuk pula pemimpin-pemimpin baru sehingga tercipta proses regenerasi. Sesuai dengan kata pepatah yang menyebutkan Pemimpin yang baik adalah ia yang mampu menyiapkan pemimpin selanjutnya yang lebih baik dari dirinya.

Dari tiga kalimat dalam filosofi di atas, kita dapat belajar bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu memberikan sebuah peran kepada yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang baik harus bisa menempatkan diri dan peka terhadap lingkungan sekitar. Pemimpin harus bisa menempatkan diri di depan untuk memberikan teladan, di tengah untuk memberikan semangat, dan di belakang untuk memberikan dorongan, demi tujuan yang disepakati bersama.
Kita semua berharap Negeri ini akan banyak memiliki pemimpin yang mampu benar-benar memimpin sesuai dengan filosofi kepemimpinan tadi. Bukan pemimpin yang hanya mementingkan ego pribadi dan golongan, tapi pemimpin yang mampu menginspirasi dan membawa Indonesia menjadi lebih baik. Buat Ibu Pertiwi tersenyum dengan karya kita, mari menjadi pemimpin yang luar biasa untuk Indonesia. 


“Digugu dan di Tiru”

“Digugu dan di Tiru”

Guru dalam filosofi Bahasa Jawa adalah sebuah kata yang mempunyai makna "digugu lan ditiru". Maksud dari digugu lan ditiruadalah bahwa seorang guru harus bisa memenuhi 2 kata tersebut, yakni pertama digugu  yang artinya bahwa perkataannya harus bisa dijadikan panutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban tersebut baik yang berupa alasan-alasan maupun bukti-bukti yang logis dalam penyampaian sesuatu terhadap siswanya maupun kepada masyarakat umum. Maka dari itu seorang guru harus mempunyai kewibawaan juga wawasan yang cukup tinggi, sebab apapun yang diucapkannya akan dianggap benar oleh murid-muridnya.


Yang kedua, sosok seorang guru harus bisa ditiru, baik tingkah lakunya, segala hal yang diucapkannya (pengetahuannya), semangatnya, dan budi pekertinya harus bisa dijadikan teladan. Sehingga dengan terpenuhinya kedua kata tersebut yaitu "digugu lan ditiru" maka tujuan pendidikan niscaya akan dicapai dengan baik.


Profesi seorang guru tidaklah hanya semata-mata sebuah pekerjaan yang mengajar anak didik. Tetapi, tugas dan peran guru jauh lebih berat dan sangat mulia, yaitu menyiapkan masa depan. Hasil karya guru sangat diharapkan untuk bisa melukis masa depan Indonesia, sebagai ujung tombak dan penentu masa depan bangsa. Sosok seorang guru harus mampu menjadi teladan pembelajar yang tidak henti-hentinya untuk terus belajar dan menstransfer ilmunya kepada anak didik demi meraih masa depannya dan demi kemajuan bangsa tercinta ini.


FILOSOFI BAKAR BAN DEMO

FILOSOFI BAKAR BAN DEMO

bakar!! bakar!! bakar!!
itu selalu aku bertanya-tanya , apa gunanya mereka bakar ban setiap melakukan aksi?apa ada filosofinya??


 Bakar Ban adalah simbol perlawanan terhadap kapitalis
Ban mobil adalah produk ekonomi kapitalis.

- Bakar Ban akan menimbulkan api dan asap yang sangat kental dan proses pembakarannya lebih bertahan lama. Asap hitam bisa disimbolkan hitamnya kinerja para pemimpin. Sedangkan api adalah simbol kemarahan terhadap kondisi yang terjadi.

- Bakar Ban dianggap lebih wajar dibanding Bakar Ayam atau Bakar Ikan, "Ini kan demontrasi!!! Bukan demo masak!!! Hahaha.

- Kenapa harus Bakar Ban? Apa tidak bisa diganti dengan membakar Kayu Bakar? "Inikan demontrasi Bung!!! Lu kata ini lagi di Puncak apa??? Bikin api unggun segala??? Hahaha.

- Karena demonya berkaitan dengan Bahan Bakar, maka diadakan acara Bakar Membakar, hehe.

Mungkin itulah kemungkinan mengapa mereka membakar ban saat aksi demontrasi, tetapi kawan, Janganlah kau ganggu penjual Ban bekas itu!! Dan janganlah kau Bakar Ban di jalan karena jalan bukanlah tempat acara Bakar-Bakaran, hehe.
Salam Damai.

TENTANG TUHAN

TENTANG TUHAN

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, tema yang sering dan acapkali menjadi obrolan dan perbincangan adalah perbincangan tentang Tuhan dengan pelbagai pendekatan dan metodologi. Di setiap masa dan tempat, semenjak kaum awam hingga kaum cerdik pandai (baca: filosof), masyarakat dari berbagai strata -dengan ragam ekspresi- bertutur ihwal Sang Pencipta. Perbincangan ini tidak pernah sepi dan hening dari kehidupan manusia. Fitrah yang bersemayam dalam lubuk hati manusia senantiasa terketuk dan berdenyut untuk membahas dan membincangkan argumen (burhan) dalam membuktikan wujud dan eksistensi Tuhan. Pemikiran-pemikiran beradu dan berpadu.
Para filosof silih berganti muncul untuk mengubah pandangan manusia. Semua itu melukiskan kembara tiada ujung ide manusia ihwal Tuhan. Terbentang dari filosof belahan dunia Barat hingga Timur, berupaya menyuguhkan argumen paling rasional dalam membuktikan wujud Tuhan. Dalam tulisan ini, yang akan dibagi menjadi dua bagian, akan kita bahas gagasan dan tuturan yang disajikan oleh filosof-filosof semisal Socrates, Plato, Aristoteles, Santo Thomas Aquinas, Santo Anselm, Leibniz, Rene Descartes, Spinoza, Immanuel Kant yang merupakan filosof-filosof unggul dunia Barat.  
Socrates
 Socrates (380-450 SM), filosof Yunani, yang secara mendalam mempengaruhi filsafat Barat lewat pengaruhnya terhadap Plato. Tuhan dalam pandangan Socrates -sebagaimana manusia- memiliki kekuatan berpikir. Artinya bahwa dalam tatanan semesta juga terdapat kekuatan sedemikian. Khususnya kita lihat bahwa alam semesta ini memiliki tatanan dan sistemik, dan bukan tanpa tatanan dan non-sistemik.  Socrates menegaskan bahwa setiap perkara itu memiliki tujuan, dan dzat Tuhan adalah tujuan keberadaan alam semesta ini. Oleh karena itu, alam semesta ini pastilah tidak bersumber dari perkara aksidental dan sebuah benturan (big bang).  Lantaran alam semesta ini memiliki aturan, maka urusan mondial dan duniawi juga memiliki aturan-aturan natural, dimana manusia harus menjalankan aturan-aturan tersebut. Atas alasan ini, Socrates -dalam ranah politik- tidak berkeyakinan bahwa politik itu harus keras dan koersif. Dengan kata lain, bahwa politik itu juga bersandar pada hikmat dan kebijaksanaan. (Seir Hikmat dar Urupa, hal)

 Plato       
Plato (428/427-348/347 SM)  yang merupakan murid jenius Socrates -sedemikian jeniusnya sehingga terkadang apabila Plato datang ke Academia Socrates, sang guru berkata “Sang akal telah datang”-  merupakan filosof kawakan yang ajarannya banyak dijadikan sebagai landasan filosofis filosof-filosof Barat. Para pengikutnya ini biasanya disebut sebagai Platonis.       Ajaran Plato tentang Tuhan kebanyakan disampaikan dalam terma-terma mistis, yang menegaskan kebaikan Tuhan (sebagaimana dalam Republic dan Timaeus) dan kebaikannya kepada manusia (sebagaimana dalam Phaedo); Tetapi dalam Phaedrus, dan lebih jelasnya dalam Laws, ia menghadirkan sebuah argumen yang lebih rigoris yang berdasarkan kenyataan bahwa segala sesuatu itu berubah (change) dan bergerak (in motion). Segala yang berubah itu tidak selamanya bersumber dari luar (eksternal), sebagian dari perubahan tersebut bersifat spontan dan bersumber dari “jiwa”. Dan akhirnya berujung pada sebuah jiwa yang suprim dan paripurna. (Britannica Encylopaedia, 2006)Dalam Timaeus, sebagaimana dinukil dalam kitab Faidh wa Fâ’iiliyyat Wujudi Az Aflatun tâ Mulla Shadra, penciptaan alam semesta dan pengerangka kosmos dinisbahkan kepada demiurege (shâne’, pencipta) yang mewujudkan kosmos ini dari keadaan yang tak tertata dan non-sistemik, menjadi sebuah kosmos yang tertata dan sistemik. Dalam perkara ini, mundus imaginalis (alam ide) dapat dijadikan sebagai satu contoh dan setelah mencipta alam ide, Tuhan mengadakan jiwa universal.        

 Aristoteles          
Aristoteles (384-322 SM), filosof dan ilmuwan ternama Yunani. Dalam Metafisika-nya, Aristoteles berargumentasi dalam menetapkan keberadaan satu wujud Ilahiah, yang dijelaskan sebagai Prime Mover (penggerak agung), yang bertanggung jawab bagi  kesatuan dan kebertujuan alam semesta. Tuhan merupakan sosok paripurna. Oleh karena itu, Dia merupakan aspirasi segala sesuatu di kosmos ini, lantaran segala sesuatu berhasrat untuk berbagi kesempurnaan. Di alam kosmos ini terdapat penggerak-penggerak yang lain – penggerak-penggerak cerdas dari planet-planet dan bintang-bintang (Aristoteles menyangka bahwa jumlah dari penggerak cerdas ini adalah “55 atau 47”). Kendati Penggerak Agung (The Prime Mover), atau Tuhan, yang dijelaskan oleh Aristoteles tidak cukup sesuai dengan tujuan-tujuan religius. Betapapun, Aristoteles membatasi “teologinya” pada apa yang ia percayai sesuai dengan tuntutan ilmiah dan dapat dibuktikan secara ilmiah.   

St. Anselm 
Santo Anselm (1033-1109), teolog, filosof, dan pemimpin gereja, mengajukan sebuah argumen untuk menetapkan keberadaan Tuhan yang hingga saat ini masih diperdebatkan. Santo Anselm menyusun Monologium (Soliloquy, 1077) yang di dalamnya merefleksikan pengaruh Santo Augustine yang menyatakan bahwa Tuhan merupakan wujud tertinggi dan mengurai sifat-sifat Tuhan. Pada tahun 1078, ia melanjutkan proyeknya mencari pemahaman tentang iman. Dia menyelesaikan Proslogium (Discourse), yang pasal keduanya menghadirkan the original statement yang menjadi popular sebagai ontological argument pada abad ke-18. Santo Anselm berargumen bahwa bahkan mereka yang meragukan eksistensi Tuhan akan memiliki pengertian atas apa yang mereka ragukan: yaitu mereka akan memahami bahwa Tuhan adalah satu wujud yang tidak ada wujud yang lebih besar dari-Nya. Anselm berkata bahwa seluruh eksistensi, kurang-lebihnya senantiasa akan berhadapan dengan kesempurnaan. Oleh karena itu, konsepsi yang menggambarkan adanya sebuah realitas dimana tidak ada lagi realitas lebih sempurna darinya yang mampu digambarkan, adalah sebuah konsepsi yang logis. Jika realitas yang didefinisikan ini adalah wujud Tuhan, berarti Tuhan harus riil. Karena apabila Tuhan hanya merupakan gambaran dan realitasnya hanya berada dalam pikiran, berarti masih bisa digambarkan adanya realitas lain yang lebih sempurna darinya, yaitu eksistensi yang betul-betul wujud. Dan ini berarti terjadi kontradiksi. Oleh karena itu dan berdasarkan perhitungan logika, maka mau tidak mau harus diterima bahwa realitas dan eksistensi yang  kesempurnaannya mutlak betul-betul ada, dengan demikian maka Tuhan ada”. (Mabani wa Tarikh-e Falsafeh-ye Gharbi, hal. 125) Anselm sepakat bahwa setiap orang yang memahami apa maksud lafadz-lafadz Tuhan atau maujud transendental, maka dia akan menemukan bahwa eksistensi semacam ini harus riil dan ada. Tuhan adalah sebuah realitas dimana tidak ada lagi realitas lain yang lebih besar darinya yang bisa digambarkan. Dan karena aku bisa memahami definisi ini maka aku bisa menggambarkannya. Lebih dari itu aku bisa menggambarkan Tuhan sehingga tidak saja dia merupakan sebuah persepsi dalam pikiranku, melainkan juga sebagai sebuah eksistensi dalam realitas, yaitu ada secara mandiri dari persepsi dan pikiranku.Setelah diketahui bahwa keberwujudan sebagai sebuah persepsi dan juga sebagai sebuah realitas lebih besar dari keberwujudan yang hanya sebagai sebuah konsepsi (tashawwur, gambaran dalam benak), maka berarti Tuhan harus riil dalam hakikat dan juga riil dalam konsepsi. Berdasarkan definisi ini, maka Tuhan adalah sebuah realitas wujud dimana realitas lain yang lebih besar darinya tidak bisa lagi digambarkan. Oleh karena itu, Tuhan harus ada dalam realitas. Jika tidak, maka sesuatu yang lebih besar dari Tuhan masih bisa digambarkan (yaitu sebuah eksistensi yang selain mempunyai semua sifat-sifat Tuhan juga mempunyai keberadaaan yang riil. Dan ini mungkin melalui definisi Tuhan tersebut atau melalui wujud yang superior dan sempurna”. (Kulliyat-e Falsafeh, hal. 238)      
 René Descartes 
René Descartes (1596-1650) adalah filosof berkebangsaan Prancis. Di samping ia dikenal sebagai filosof, ia juga adalah ilmuan dan matematikawan dan terkadang ia disebut sebagai bapak filsafat modern. Langkah awal yang digunakan oleh Descartes untuk mencapai keyakinan adalah kita harus melihat apakah kita dapat ragu pada segala hal atau tidak. Ragu terhadap memori ingatan, pada penentuan indera dan persepsi, terhadap eksistensi dunia dan terhadap wujud ragawi orang tersebut. Seperti yang disebutkan dalam “Discourse on Methods”, Descartes mengatakan bahwa postulat “Aku berfikir, karena itu Aku ada” adalah sedemikian kukuh dan niscaya, sehingga kaum Skeptis tidak lagi dapat menggoyahkannya. Postulat “Aku berpikir atau Aku ragu”, yakni apabila seorang meragukan segala sesuatu, ia tetap tidak akan pernah meragukan keberadaan dirinya sendiri. Mengingat keraguan tidak bermakna tanpa peragu, maka keberadaan manusia peragu dan pemikir adalah sesuatu yang tidak bisa diragukan. Kebenaran tentang aku yang meragukan ini bagi Descartes merupakan kepastian. Karena aku mengerti hal itu dengan ‘jelas dan khas’ (clear and distinc). Aku ada, aku eksis; pernyataan ini merupakan sebuah keyakinan. Oleh karena itu, aku ada sejatinya menunjuk kepada satu maujud yang berpikir. Argumen Descartes dalam membuktikan wujud Tuhan ada dua. Pertama, dengan menerima pandangan di atas yang bersandar pada metode skeptiknya. Dia menganggap dirinya sebagai maujud yang tidak sempurna. Dengan demikian ia menerima bahwa wujud Tuhan merupakan wujud yang sempurna. Descartes berpandangan bahwa memikirkan satu wujud yang sempurna, hanya dapat bersumber dari satu wujud yang sempurna; thus Tuhan sebagai sumber wujud tersebut haruslah wujud. Argumen yang merupakan argumen kosmologikal ini secara asasi bersandar pada prinsip filsafat Skolastik yang berdiri di atas ukuran realitas tersebut yang terdapat pada sebab juga terdapat pada akibatnya. Artinya apabila satu pikiran sempurna, dalam keadaan ini sebabnya juga akan sempurna. (Fifty Major Philosophers: A reference guide, hal. 136) Argumen kedua, popular sebagai argumen ontologis yang juga berkaitan dengan prinsip filsafat Skolastik. Dalam pandangan dunia Descartes, Tuhan adalah dzat nir-batas dan abadi serta tidak berubah dan mandiri, mahatahu dan omnipotency, dimana aku dan segala sesuatu yang lain yang maujud adalah akibat dan makhluk-Nya. Argumen ontologi Descartes dituangkan dengan uraian yang lebih jelas, sebagai berikut:“Dengan melalui analisa yang sederhana kita ketahui bahwa segitiga secara niscaya mempunyai tiga sudut dan tiga siku. Maka gambarkanlah Tuhan dalam diri kalian dengan cara yang demikian pula. Dzat Tuhan kita definisikan sebagai kesempurnaan mutlak.Pada hakikatnya kesempurnaan mutlak adalah sebuah majemuk dari seluruh kesempurnaan yang bisa digambarkan. Tetapi wujud merupakan sebuah kesempurnaan. Oleh karena itu kesempurnaan mutlak apabila tidak mempunyai wujud, berarti bukan mutlak. Dan konklusinya: wujud mempunyai keterkaitan dengan kesempurnaan sebagaimana  mestinya segitiga yang mempunyai keterkaitan dengan tiga sudut dan tiga sikunya”. (Andrew Crisson, Falâsife-ye Buzurgh, jil. 2, hal. 28)    
 Immanuel Kant
Immanuel Kant (1724-1804) adalah salah seorang filosof besar Barat. Kant memberikan empat batasan metodelogi untuk membuktikan wujud Tuhan. Kendati ia mengajukan kritik terhadap argumen-argumen yang mengitsbat eksistensi Tuhan dalam ranah theoretical reason (akal teoritis), namun sepenuhnya percaya pada argumen-argumen moral (practical reason) dalam membuktikan wujud Tuhan. 
Kant dalam domain akal teoritis membagi argumen-argumen dalam membuktikan wujud Tuhan menjadi tiga bagian:
1.      Argumen natural – teologikal atau teleologikal: Dalam argumen ini bertitik-tolak pada eksperimentasi tipikal dan tertentu dari fitrah khusus alam kendriya (inderawi) dan sesuai dengan hukum kausalitas dalam membuktikan wujud Tuhan. Atau dengan ungkapan lain, Tuhan dapat dipahami dan diketahui melalui sistemik dan tertatanya alam semesta bahwa Dia adalah Sebab Pertama. 
2.       Argumen kosmologikal: dalam argumen ini melalui pengalaman-pengalaman yang tidak tipikal dan khusus yaitu huduts (baru) dan imkan (kontingen) alam semesta atau segala sesuatu yang ada di alam semesta, setidaknya  keberadan seseorang dan kemudian dapat diketahui keberadaan wajib al-wujud

3.       Argumen ontologikal: Dalam argumen ini wujud Tuhan dapat dibuktikan dengan menganalisa pahaman kesempurnaan mutlak.   Argumen yang diintrodusir oleh Kant merupakan argumen yang dapat menuai hasil dalam membuktikan wujud Tuhan.  Dalam argumen moral ini, melalui pahaman “harus” moral “eksis” dan “ada” wujud Tuhan dapat dibuktikan. [bersambung]

Senin, 26 Desember 2016

SEMAKIN AKU TAHU, SEMAKIN AKU TIDAK TAHU


Setelah kuliah pengetahuan semakin banyak setalah belajar filsafat aku menyadari aku menjadi tahu bahwa aku tidak tahu. 

Socrates pernah berkata :

"Makin banyak aku tahu, makin banyak aku tidak tahu. Akhirnya aku tahu bahwa hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa a- apa!"

apa maksud dengan pernyataan diatas?
Bahwa semakin kita belajar, kita semakin sadar, ternyata, banyak banget ilmu yang tidak kita tahu. Beruntunglah orang yang merasakan hal itu. Mengapa? Karena dengan begitu, kita menjadi pribadi yang rendah hati, tidak sombong, ternyata, ilmu kita hanya sedikit atau mungkin belum pantas disebut ilmu,  karena hanya sedikit banget kan yaa. 
Banyak orang ternyata yang lebih pintar, pandai dari kita. Dengan hal tersebut, akibatnya, kita pengennya tahu. Penasaran dengan sebuah ilmu. Ga pernah puas dengan ilmu yang dimilki. Emang, harus gitu ya, orang yang mencari ilmu itu
Rasa-rasanya, ketika kita belajar, tidak pernah puas untuk mempelajari itu. Kayaknya masih kurang, “Saya belum belajar nih, masih kurang nih”
Ternyata, semakin bodoh kan?
Memang ilmu itu sangat luas, bahkan Allah saja, ilmunya sangat luas.